Senin, 25 April 2016

Pertama (3)

Sebuah dentuman.
Berdegub.
Memukul kencang.
Irama cepat.
Tidak teratur.

Begitulah jantungku, saat mataku menatap punggungmu. Sebatas punggung. Badanmu yang kurus, namun bidang rasanya ingin ku peluk saja dari belakang.

Aku tidak sedang membicarakan pertemuan. Hanya  postingan singkat sederhana punggungmu, menatap indahnya maha karya Tuhan yang kau agung-agungkan. Kamu sangat menyukai travelling. 

Kita berbeda. Aku hanyalah gadis dua puluh tahun yang tidak diizinkan pergi keluar rumah tanpa tujuan. Mamah berkata bahwa travelling akan membuang-buang waktu saja. Tapi karenamu rasanya aku menikmati indahnya alam ketika kamu bercerita dan ketika kamu memamerkan semua foto-fotomu. Kamu begitu antusias saat bercerita padahal dalam cerita itu kamu sedang sakit. Bahkan kamu juga berkata bahwa Ibumu begitu mengkhawatirkanmu.

Iya. Itu semua hanya sebuah postingan di Blog pribadimu. tapi rasanya seperti dekat. Seperti benar-benar melihatmu bercerita di hadapanku. Seperti tampak nyata. Membuat aku tertawa, khawatir, dan bahagia dalam satu waktu. Membuat aku ingin bersyukur bahwa jika aku tidak dapat dipertemukan dengan maha karya Tuhan seindah itu, setidaknya aku sudah diperkenalkan melaluinya, yang menurutku maha karya Terindah.

Seperti terngiang-ngiang dikepalaku bahwa suatu saat kau akan berkata "Ini menyenangkan, pergilah bersamaku. Aku akan minta izin kepada mamahmu"

Dan itu semua hanyalah fiktif belaka.
 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template