Minggu, 04 September 2016

Pertama (6)

Dear Vino

Lagi lagi aku menulis surat cinta untukmu.
Semoga kamu tidak bosan.

Untuk waktu kamis september. Terimakasih sudah ingat aku.
Terimakasih sudah mau mengajakku bercanda. Terimakasih.
Walau hanya malalui ketikan tak bersuara di aplikasi chat.
Sekali lagi terimakasih.

Perkara kerinduan yang berulangkali ku katakan tapi tidak dapat dijelaskan, aku harap kamu abaikan dengan cepat.
Ah.. sudah pasti harapanku akan menjadi kenyataan.
Sebab, kamu juara soal mengabaikan, khususnya mengabaikan aku.

Aku berpikir bahwa apa yang kamu tulis seputar kerinduan adalan tentangku.
Iya iya aku paham. Aku terlalu percaya diri kan ?
Aku baik baik saja walau yang kamu tulis itu bukan aku.

Terimakasih selalu update sosial mediamu.
Aku jadi lebih tahu bahwa kabarmu baik baik saja. Kamu masih sehat.
Punggungmu masih seistimewa saat terakhir pertemuan
Alismu masih tampak tegas
Ah ingin rasanya memiliki keturunan sepertimu.
Ah.. maafkan aku Vino. Mimpiku sering berada diluar batas.

Terimakasih telah mengingatku. Aku senang.
Sangat senang.



Tertanda
Kerinduan yang (menurutmu) membosankan
MARSHA (and the bear)


Rabu, 24 Agustus 2016

Pertama (5)

Dear Vino

Hi Vino
Aku menulis ini karena saat ini aku terkejut. Kamu masih mengingat namaku dan menyebutnya begitu saja dalam grup whatsapp 'Marsha sebentar lagi juga .....' begitu katamu.

Disaat anggota grup sudah ingin melupakan dan menyebut 'siapa itu marsha ?' Tapi kamu malah menyebutnya dengan jelas. Ya walau pada akhirnya anggota grup tidak merespon lagi seputar aku. Hanya kamu yang sebut namaku ! Terimakasih Vino sudah ingat.

Sudah genap 1 tahun, sejak pertama kali pertemuan kita. Terimakasih Vino untuk tetap mengingat nama ku.

Aku tahu punggungmu masih se-istimewa dulu, dan aku masih memliki keinginan untuk memeluk punggungmu. Menghapus lelahmu.

Iya iya maafkan aku Vino. Aku bukan kriteria wanitamu. Aku sadar. Hanya saja, sangat menyenangkan ketika bercerita tentang mu terutama punggungmu. Tak masalah jika kamu selalu membelakangiku, karena itulah yang sering kamu lakukan kepadaku. Aku memang bukan bagian penting sehingga kamu harus memperhatikanku. Sebab itulah cukup punggungmu saja yang aku cintai.

Kapan kamu akan menceritakan lelahmu kepadaku ? Kapan kamu akan menyampaikan rasa bahagiamu kepadaku ? Aku akan tunggu Vino. Ya aku tahu Vino, hal itu adalah hal yang tidak mungkin tapi percayalah aku bahagia walau kelak disisimu itu bukan aku.

Semoga kamu sehat selalu. Aku masih tetap 'suka' kamu, seperti yang sudah aku katakan di awal bulan September  lalu. Saat lelah tubuhmu menjadi panitia acara komunitas mu. Apa kamu masih ingat itu ? :)

Ah kamu pasti lupa hal tidak penting ini !
Vino...
Aku merindukan punggung (ka)mu !


Dari rindu yang biasa kau sebut
Marsha (and the bear)

Rabu, 10 Agustus 2016

Pertama (4)

Dear Vino

Hai Vino, bagaimana kabarmu ?
ini kali ke-4 aku memperbincangkan mu Sudah lewat beberapa bulan saat terakhir kali aku menulis tentangmu.
Apakah kamu merindukanku ?
Wahh... itik buruk rupa ini sudah mulai lancang membahas rindu dengan mu ya hahaha
Maaf, aku lancang. Sebab belum ada pertemuan setelah 7 bulan lamanya.

Aku masih belum memiliki alasan untuk menciptakan pertemuan. Bukan karena tidak ada kesempatan tapi....
Kamu yang tidak menginginkan pertemuan kita. Iya kita !

Canggung rasanya saat terakhir kali bertemu kamu, sebab perasaanku masih tergantung di pikiranmu. Mungkin sedikit mengganggumu. Maaf telah menciptakan ketidak nyaman selama ini.

Terimakasih sudah mengirimi aku pesan singkat lebaran yang sudah berlalu beberapa hari. Maaf aku tidak membalas.
Sebab jika aku membalas, aku akan selalu menunggu balasanmu dan hal itu sedikit menyiksaku. Padahal sulit bagiku memulai perbincangan, sedangkan mudah bagimu untuk mengakhirinya.

Punggungmu masih se-istimewa dulu. Iyaa.. aku melihat postinganmu di internet.
Aku pikir kamu membaca postingan ku sebelumnya yang membicarakan seputar punggung mu. Apa aku GR ? Maaf jika aku salah.
Tapi... rasanya masih sama, aku masih ingin memeluk punggungmu.

Kali ini tidak banyak yang aku ceritakan.
aku rindu. itu saja !
yang jelas kerinduanku tidak sesederhana itu.



Tertanda,
kerinduan yang boleh kau penggil ...
Marsha and the bear (?)

Senin, 25 April 2016

Pertama (3)

Sebuah dentuman.
Berdegub.
Memukul kencang.
Irama cepat.
Tidak teratur.

Begitulah jantungku, saat mataku menatap punggungmu. Sebatas punggung. Badanmu yang kurus, namun bidang rasanya ingin ku peluk saja dari belakang.

Aku tidak sedang membicarakan pertemuan. Hanya  postingan singkat sederhana punggungmu, menatap indahnya maha karya Tuhan yang kau agung-agungkan. Kamu sangat menyukai travelling. 

Kita berbeda. Aku hanyalah gadis dua puluh tahun yang tidak diizinkan pergi keluar rumah tanpa tujuan. Mamah berkata bahwa travelling akan membuang-buang waktu saja. Tapi karenamu rasanya aku menikmati indahnya alam ketika kamu bercerita dan ketika kamu memamerkan semua foto-fotomu. Kamu begitu antusias saat bercerita padahal dalam cerita itu kamu sedang sakit. Bahkan kamu juga berkata bahwa Ibumu begitu mengkhawatirkanmu.

Iya. Itu semua hanya sebuah postingan di Blog pribadimu. tapi rasanya seperti dekat. Seperti benar-benar melihatmu bercerita di hadapanku. Seperti tampak nyata. Membuat aku tertawa, khawatir, dan bahagia dalam satu waktu. Membuat aku ingin bersyukur bahwa jika aku tidak dapat dipertemukan dengan maha karya Tuhan seindah itu, setidaknya aku sudah diperkenalkan melaluinya, yang menurutku maha karya Terindah.

Seperti terngiang-ngiang dikepalaku bahwa suatu saat kau akan berkata "Ini menyenangkan, pergilah bersamaku. Aku akan minta izin kepada mamahmu"

Dan itu semua hanyalah fiktif belaka.
 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template