Selasa, 25 Agustus 2015

Antara Cinta dan Rahasia

Kita mengawali sebuah percakapan yang salah. Kenyataanya, aku tidak menyesal telah memulai percakapan yang salah denganmu. Aku justru menikmati setiap kata yang kita ucapkan. Membuat pipimu selalu mengembang setiap kita berbicara, terutama setiap pertemuan kita yang jarang sekali terjadi. Memandangmu dalam pertemuan yang jarang adalah sebuah rindu yang menyesakan dada, seperti... aku tidak benar-benar memilikimu secara utuh.

Sebenarnya..
Kita memiliki sebuah cinta yang seharusnya tidak kita mulai. Ini bukan salahmu. Ini semua adalah salahku ! Aku terlalu menikmati bibir manismu hingga aku tidak mampu melepasnya. Kesalahan kita adalah... kita seorang penghinat. Menyimpan rapat-rapat rahasia besar, kemudian kita bersikap tidak terjadi apa-apa. Munafik ! Iya itulah kita !

Airmataku bercampur dengan permohonanku. Setiap malam kita tertidur dalam keadaan tidak nyenyak, dibayang-bayangi rasa bersalah tentang sebuah rahasia yang telah kita simpan. Manusia bodoh mana yang akan tetap bahagia memiliki cinta seperti kita ? Dan aku tidak ingin melepaskan cintamu.

Ada saatnya.. Cepat atau lambat, bahwa aku tidak bisa menjadi bagian dari dirimu lagi. Kamu boleh menghilang dari kehidupanku, tapi ketahuilah bahwa kamu adalah cahaya hidupku. Jika suatu saat kamu akan benar-benar pergi, maka detik itu juga hancur sudah duniaku.

Aku tersenyum memikirkanmu, tapi aku terpukul ketika mengingatmu. Kita saling mencintai. Cinta kita adalah cinta terkejam yang pernah aku temui. Tapi apakah kita bisa menyalahkan cinta ? TIDAK ! Cinta tidak seharusnya menjadi alasan untuk kesalahan yang telah kita buat.

Aku ingin bernafas bersama dengan cintamu, mengarungi semuanya seperti kamu menjalani semua bersamanya. Aku ingin seperti dia, yang kamu perlakukan secara spesial. Yang kamu rebut cintanya secara resmi. Yang kamu sanjung di depanku setiap kita bertiga bertemu. Yang kamu genggam erat tangannya, walau disitu ada aku. Iya.. Dia ! Dia yang menjadi batu kerikil kita. Dia adalah kekasihmu, sahabatku. Dia yang sering kita perbincangkan dalam setiap pertengkaran kita. Dia yang menjadi bagian tergelap dan tersuram dari masa depan kita.

Aku ingin menyerah. Dan hal itu adalah hal tersulit yang bisa aku lakukan. Jangan berpaling dariku, aku akan selalu mengingat mata coklatmu. Tetaplah seperti ini. Aku terlanjur menikmatinya dalam kesakitanku.

Aku akan bersikap seperti biasa. Seperti yang sering kamu katakan "bersikaplah seolah kita tidak pernah melakukan apa-apa"



Terinspirasi :
Yura Yunita ft. Glen Fredly - Cinta dan Rahasia
 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template