Kamis, 09 April 2015

Hai Cemong !



Aku masih belum punya alasan mengapa aku sengaja menulis tulisan ini untuknya. Aku masih berupaya keras mengapa aku harus menengok kearah pajangan kucing kecil dengan warna yang aneh. Aku tidak tahu...

Ditengah-tengah padatnya tugas-tugas kuliah yang menggunung di semester 6 ini aku tertegun. Menatap legam-legam pajangan kucing dari keramik yang aku pikir ini adalah salah satu pajangan yang tidak layak jual. Aku memanggil pajangan kucing itu adalah ‘cemong’. Kamu boleh lihat warna merah jambu di hidunya, celemotan.

Aku teringat akan sosok yang baru tahun lalu kami dipertemukan dalam suatu acara yang disebut malam keakraban yang sengaja di buat untuk menjalin keakraban dan kekompakan jurusan kami. Waktu itu aku dan dia satu kepanitiaan. Oh iya, bagaimana kabarnya ? lupakan ! dialah orang yang memberikan pajangan keramik itu saat acara tukar kado setahun yang lalu. Katanya 'Buat kamu aja beb, biar inget aku terus hehe'.

Kabarnya ? Bagaimana kabarnya ? Dia baik-baik saja. Aku sering bertemu, kelasnya selalu tidak jauh dari kelasku. Dia kelas A dan aku kelas B. Aku tidak pernah tahu namanya, dia adalah anak pecinta alam. Jika dilihat secara fisik dia tidak tinggi, tidak tampan, kulit sawo matang, memiliki jerawat di pipi kirinya, rambutnya panjang sebahu. Penampilan ? Ya kamu tahu lah gaya anak pecinta alam sejati. Terlihat seperti urakan, kumuh, atau mungkin saat berangkat kuliah belum sempat mandi ? entahlah !

Dia tidak pernah mengikat rambut panjangnya. Dia lebih sering menyeka poninya ke belakang telinga. Saat berbicara dalam kepanitian, wibawa begitu kental. Dia berbeda dari cara berpakaiannya, dia lebih spesial dari orang-orang berdasi diluarsana. Dia dewasa !

Aku jatuh cinta ! 
Sial ! 
semudah itu aku jatuh cinta ? 
Murahan ! 
padahal aku baru mengenalnya beberapa jam yang lalu.

Karena kami satu kepanitian tentu saja kami dekat, amat sangat dekat. Tapi apa salah jika sampai detik ini aku tidak tahu namanya ? sudah setahun silam aku masih belum mengetahui namanya.

Dia mengetahui namaku tetapi dia lebih suka memanggilku dengan sebutan “bebeb” lucu ya. Padahal kami baru kenal saat itu. Aku menikmati panggilan itu. Bukan karena aku jatuh cinta. Itu karena panggilan manis itu hanya aku dapatkan darinya dan panggilan itu hanya ditujukan untukku. Dia memang bukan orang yang agamis, sholat ? jangan tanya ! aku bahkan tidak tahu dia muslim atau bukan. Dia lebih sabar dariku, dia menenangkan aku saat aku stress dengan kelompok yang aku mentori, dia mau mendengarkan keluhanku atas kepanitiaan yang membuatku naik darah, dia itu mampu.... ah, segalanya dia mampu ! dia mampu membuangku saat acara kepanitiaan itu selesai.

Ya.. aku dibuang. Aku dilupakan. Selesai acara kampus, semuanya berubah. Tidak ada lagi panggilan ‘bebeb’ lagi. Semuanya selesai. Kami berubah menjadi asing, tidak kenal, tidak pernah saling menyapa, bahkan lambaian tanganku tidak pernah direspon balik. Apa salahku ? 


Saat ini rambutnya sudah tidak sepanjang dulu, dia lebih tampan dengan rambut cepak walaupun gayanya masih sama, belum serapih orang-orang berdasi. Kita hidup biasa saja, Kami saling tertawa tapi kami tertawa masing-masing dengan orang lain. Kami hanya berpapasan tanpa saling mengenal. Seolah-olah tidak pernah ada panggilan "Bebeb" seperti dulu.

Ah sudahlah, aku hanya membuang-buang waktu menulis tulisan ini untuknya. Tentang perasaan yang disembunyikan oleh kerinduan. Tak bisa dijelaskan. 

Baiklah aku akhiri saja semua ini.

"Hai bebeb, AKU sudah RINDU setengah mati !" 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template