Sabtu, 18 April 2015

Perkara KEBETULAN !!

Pada akhirnya aku tahu namanya. Tasya. Setelah sekian lama hingga 4 semester ini hampir berakhir. Secara tidak sengaja, aku tahu namanya begitu saja. Kelas kami selalu berhadapan tanpa sengaja, atau mungkin pihak akademik tahu bagaimana caranya menjodohkan dua anak manusia ? Entahlah ! aku tidak mau ambil pusing.

Namanya Tasya Salsabila. Namanya cantik, seperti wajahnya. Tingginya hanya sepundakku, secara tidak sengaja dia berdiri menghampiriku. Bukan, bukan menghampiriku lebih tepatnya dia sedang mencari udara segar, dia lebih suka berdiri sebentar dibalkon saat ditengah-tengah jam kuliah, dan kebetulan aku sedang berdiri disana saat itu. Dia tersenyum saat menyadari keberadaanku di balkon, dan sampai detik ini aku masih ingat senyumnya. Manis.

Tubuhnya berisi, ideal untuk seukuran wanita berusia 19 tahun. Dia lahir pada tanggal 5 Meil 1995. Aku tahu karena tahun lalu teman-temannya membawakannya kue ulangtahun kesukaannya. Brownies. Brownies yang diatasnya ada angka 19. Sejak saat itu aku selalu ingat hari ulangtahunnya.

Jika aku ceritakan lebih dalam tentangnya, kamu tidak akan percaya bahwa wanita yang sering aku perhatikan ini adalah wanita yang aneh. Wanita ini bukan tipe wanita yang suka dandan, bukan wanita yang lebih sering mengenakan rok, bukan wanita yang suka menggunakan hak tinggi. Wanita ini berbeda. Berkulit coklat gelap, memiliki bibir mungil, pipi gembul, mata besar dan hidung mancung seperti orang arab, tapi mana ada orang arab hitam ? Dia Lebih suka mengenakan celana jeans dan kemeja panjang. Menggunakan kerudung sederhana dengan sepatu runing yang tidak pernah dia ikat. Dan secara kebetulan tali itu tidak pernah mengganggu langkahnya. Secara kebetulan aku tahu bahwa dia tidak pernah mencuci sepatunya sejak dia membelinya, jorok ! tapi itu seni katanya.

Entah kebetulan apalagi yang jelas, ternyata kami satu fakultas, satu jurusan, dan satu semester ! Dia kelas B dan aku kelas D. Kami sudah menginjak semester 6. Beberapakali aku dapat melihatnya di kelasku karena dia sering ikut kelas terbang. Dan secara kebetulan, setiap matakuliah kelas terbang dia selalu memilih duduk di belakang dan menarik bangku persis disampingku. Aku berada di samping kirinya saat ini. Jantung ini rasanya mau copot, apakah kamu tahu itu Tasya ?

Dia selalu tersenyum, konsentrasiku beralih padanya. Bukan beralih tentang matakuliah statistik yang kata orang sulitnya minta ampun. Padahal menurutku biasa saja. Aku tahu sebenarnya dia kesusahan dalam kelas menghitung, tapi senyumnya itu tidak pernah luntur. Dia memang bukan ahli dalam bidang hitung menghitung. Kebetulan saat kembalian air minum dia bahkan lupa harus ada kembalian, dan aku lah yang disuruh om warung dekat kampus mengantarkan kembalian itu. Tahukah kamu ? Kalimat pertama yang Tasya ucapkan padaku adalah Terimakasih,Tomi sambil tersenyum. Oh.. Aku dibuat mati karenanya. Jantungku berhenti. DIA TAHU NAMAKU !!!

Selesai kelas statistik dia menatapku, aku shock karena kebetulan aku sedang memperhatikannya dari sandaran bangkuku. Aku  bahkan tidak bisa memalingkan mataku yang langsung menatap matanya, aku sesak nafas saat itu juga. Dia malah menyodorkan catatan buku statistiknya, ‘Tomi, kamu gak cape ngelamun terus ? besok balikin yaa daaah..’ Begitu katanya yang secara cepat menghilang dibalik pintu kelas. Tasya, KEMBALIKAN NAFASKU !!!

Sampai dirumah aku membuka catatannya, aku tahu dia begitu bermasalah dengan angka tapi dia sengaja membuat catatan statistik dibuat semenarik mungkin. Tetapi tetap saja nilai statistiknya selalu C+. Di setiap pertemuan di ujung bawah bukunya selalu tertulis kesan awal masuk sampai selesai pertemuan. Aku membacanya satu persatu, dia pernah merasa lapar diawal pertamuan bahkan dia pernah menulis aku mau nangis aja. Lucu. Kamu masih ingat, saat nafasku hilang kemarin, dia menuliskan kesan awal masuk ; Semoga berhasil Tasya, katanya tahun depan mau nikah !  hehe. NIKAH ?? NIKAH DENGAN SIAPA ?? Aku mengerut dahi, diujung bukunya setelah tulisan rumus frekuensi tertulis; Tomi, lagi-lagi gak belajar dia malah melamun. TULISAN ITU UNTUK AKU !! resmi seketika itu juga aku langsung MATI.


Oh iya, tadi aku mengatakan bahwa begitu saja aku tahu namanya ya ? itu karena ternyata secara kebetulan saat duduk di kelas statistik sebelah kanan lengan Tasya adalah Roby. Sahabatku sendiri, yang ternyata adalah kekasih Tasya selama 6 semester kami kuliah. Kebetulan !

Kamis, 09 April 2015

Hai Cemong !



Aku masih belum punya alasan mengapa aku sengaja menulis tulisan ini untuknya. Aku masih berupaya keras mengapa aku harus menengok kearah pajangan kucing kecil dengan warna yang aneh. Aku tidak tahu...

Ditengah-tengah padatnya tugas-tugas kuliah yang menggunung di semester 6 ini aku tertegun. Menatap legam-legam pajangan kucing dari keramik yang aku pikir ini adalah salah satu pajangan yang tidak layak jual. Aku memanggil pajangan kucing itu adalah ‘cemong’. Kamu boleh lihat warna merah jambu di hidunya, celemotan.

Aku teringat akan sosok yang baru tahun lalu kami dipertemukan dalam suatu acara yang disebut malam keakraban yang sengaja di buat untuk menjalin keakraban dan kekompakan jurusan kami. Waktu itu aku dan dia satu kepanitiaan. Oh iya, bagaimana kabarnya ? lupakan ! dialah orang yang memberikan pajangan keramik itu saat acara tukar kado setahun yang lalu. Katanya 'Buat kamu aja beb, biar inget aku terus hehe'.

Kabarnya ? Bagaimana kabarnya ? Dia baik-baik saja. Aku sering bertemu, kelasnya selalu tidak jauh dari kelasku. Dia kelas A dan aku kelas B. Aku tidak pernah tahu namanya, dia adalah anak pecinta alam. Jika dilihat secara fisik dia tidak tinggi, tidak tampan, kulit sawo matang, memiliki jerawat di pipi kirinya, rambutnya panjang sebahu. Penampilan ? Ya kamu tahu lah gaya anak pecinta alam sejati. Terlihat seperti urakan, kumuh, atau mungkin saat berangkat kuliah belum sempat mandi ? entahlah !

Dia tidak pernah mengikat rambut panjangnya. Dia lebih sering menyeka poninya ke belakang telinga. Saat berbicara dalam kepanitian, wibawa begitu kental. Dia berbeda dari cara berpakaiannya, dia lebih spesial dari orang-orang berdasi diluarsana. Dia dewasa !

Aku jatuh cinta ! 
Sial ! 
semudah itu aku jatuh cinta ? 
Murahan ! 
padahal aku baru mengenalnya beberapa jam yang lalu.

Karena kami satu kepanitian tentu saja kami dekat, amat sangat dekat. Tapi apa salah jika sampai detik ini aku tidak tahu namanya ? sudah setahun silam aku masih belum mengetahui namanya.

Dia mengetahui namaku tetapi dia lebih suka memanggilku dengan sebutan “bebeb” lucu ya. Padahal kami baru kenal saat itu. Aku menikmati panggilan itu. Bukan karena aku jatuh cinta. Itu karena panggilan manis itu hanya aku dapatkan darinya dan panggilan itu hanya ditujukan untukku. Dia memang bukan orang yang agamis, sholat ? jangan tanya ! aku bahkan tidak tahu dia muslim atau bukan. Dia lebih sabar dariku, dia menenangkan aku saat aku stress dengan kelompok yang aku mentori, dia mau mendengarkan keluhanku atas kepanitiaan yang membuatku naik darah, dia itu mampu.... ah, segalanya dia mampu ! dia mampu membuangku saat acara kepanitiaan itu selesai.

Ya.. aku dibuang. Aku dilupakan. Selesai acara kampus, semuanya berubah. Tidak ada lagi panggilan ‘bebeb’ lagi. Semuanya selesai. Kami berubah menjadi asing, tidak kenal, tidak pernah saling menyapa, bahkan lambaian tanganku tidak pernah direspon balik. Apa salahku ? 


Saat ini rambutnya sudah tidak sepanjang dulu, dia lebih tampan dengan rambut cepak walaupun gayanya masih sama, belum serapih orang-orang berdasi. Kita hidup biasa saja, Kami saling tertawa tapi kami tertawa masing-masing dengan orang lain. Kami hanya berpapasan tanpa saling mengenal. Seolah-olah tidak pernah ada panggilan "Bebeb" seperti dulu.

Ah sudahlah, aku hanya membuang-buang waktu menulis tulisan ini untuknya. Tentang perasaan yang disembunyikan oleh kerinduan. Tak bisa dijelaskan. 

Baiklah aku akhiri saja semua ini.

"Hai bebeb, AKU sudah RINDU setengah mati !" 
 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template