Kamis, 04 Juli 2013

Untuk kakak yang sempat ku sebut 'KAMU'

Lagi-lagi hari ini hujan, tetesan air ini mengingatkanku tentang kamu. Saat dulu kita pernah kebasahan menerjang hujan demi sebuah perjumpaan. Awal desember yang cantik memaksaku untuk bersamamu menerjang hujan. Baru kali ini aku merasakan hujan yang begitu manis. Hanya bersama kamu kak !

Namun itu hanyalah kejadian dulu, dulu sebelum kita berpisah. Aku baru sadar di awal perjumpaan pasti diujungnya ada perpisahan. Maaf kak, aku sering melupakan bagian akhir dari sebuah cerita karena tidak semua cerita bisa Happy Ending. Seperti ceritaku bersamamu. Bad Ending ! Tapi kamu tenang saja yaa.. Aku tidak akan pernah menyalahkan kamu tentang pertemuan dan perpisahan kita. Mungkin aku tidak sebaik wanitamu yang dulu. Yaa.. Dulu ! sebelum kamu bersamaku.

Oh iya, aku sampai lupa bertanya. Kakak apa kabar ? Maaf jika aku terlalu lancang menyebut kakak dengan sebutan KAMU. Terkadang aku merindukan sebutan itu untukmu. Maaf jika perasaan rinduku ini amat sangat terucap lancang. Entahlah, aku hanya merasa rindu denganmu. Yaa.. Dengan KAMU yang dulu sempat membuatku menjadi salah seorang yang memperdulikan dan memperhatikan ponsel. Hanya kamu satu-satunya orang yang membuat aku selalu menganggarkan uang jajanku perminggu hanya untuk membeli pulsa dan menghubungi kakak, walau kadang kakak abaikan. 

Bagaimana pekerjaan kakak ? masih dengan setumpuk aktivitas yang membuat wanitamu yang kini menggantikan aku merasa terabaikan ? Ayolah kak, jangan samakan wanitamu yang sekarang seperti aku yang kuat berminggu-minggu kakak abaikan. Tidak semua wanita, bisa kakak perlakukan sama. Jujur saja dulu aku butuh tapi kenyataannya kakak yang tidak pernah membutuhkan aku. Tidak pernah ! Maaf kak, lagi-lagi aku lancang.

Kak, bolehkah aku bertanya ? Katakanlah jikalau aku memang berdosa denganmu. Dengan setumpuk beban yang kau pikul bersama dosa dan rasa bersalahku. Apakah aku ini begitu mengusik hidupmu ? Mengatur segala serba-serbi urusan pribadimu ? Apakah aku begitu merepotkan dalam hidupmu ? Hingga akhir hubungan kita merupakan akhir komunikasi kita ? Mengapa kakak selalu mengabaikan pesan singkatku ? Tidakkah kakak lihat bahwa aku mengirim puluhan email untuk kakak ? Tidakkah ini terlalu menyiksaku ? 

Aku begitu paham, kakak menghindar untukku. Dan aku harus tahu diri, kakak menghindar demi perasaanku yang begitu brutal mencintai kakak. Aku juga paham maksud kakak menghindar adalah untuk membuatku melupakanmu. Sayangnya rencana itu gagal ! Kakak malah semakin membuatku mengingat-ingat dengan rasa rindu yang terabaikan ini.

Kakak... Tolong dengarkan aku baik-baik. Aku sekarang sudah mulai beraktifitas seperti wanita biasa. Aku adalah wanita kuat seperti yang pernah kakak katakan. Aku sudah mampu hidup tanpa sosokmu lagi. Aku sudah bangkit dari keterpurukan saat kakak menghempaskan kemudian membiarkan aku terjatuh dengan kepergianmu. 

Kak... Aku masih merasakan semilir angin dan tetesan hujan yang selalu mengingatkan aku tentang kamu. Terkadang aku merindukan tubuh bidangmu yang setiap bulan menyempatkan diri untuk menemuiku di depan pintu rumah. Salahkah aku memiliki perasaan rindu ini ? tapi jika aku masih mencintaimu ? Apakah salah juga ? Kamu tidak akan merampas Hak Asasi Manusiaku kan ?

1 komentar:

  1. Jangan Pernah sedih adikku hanya karena merawat rasa dan rindu, biarkan rasa itu tetap ada, adukan segala Kegalaunmu pada Tuhanmu, jika yang engkau rindukan mengabaikanmu, akan ada yang merindukanmu nanti yang melebihi rundumu padanya.... #Believe_it ^_^
    Salam Kenal :)

    BalasHapus

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template