Minggu, 07 Juli 2013

Surat Cinta untuk laki-lakiku ♥ IV

Entah suatu saat nanti wanita mana yang akan mampu merubahmu menjadi laki-laki yang baik. Laki-laki yang selalu ada dalam imajinasiku. Mungkin, imajinasiku terlalu tinggi untuk ukuran orang biasa sepertiku. Apa salahnya bermimpi ? Menjadi pemilik laki-laki baik, sholeh, jujur, bertanggung jawab, tapat waktu, rapih dan cerdas. Salah ?

Untuk kesekian kalinya kamu membatalkan pertemuan kita. Entahlah. Mungkin kamu mencoba melupakan pertemuan yang akan terjadi. Hingga waktu yang telah di tentukan lewat dengan sendirinya. Kamu itu mengecewakan ! Tidak kah kamu tahu, aku selalu mengharap-harapkan perjumpaan ? Sedang kan kamu ? Aku rasa kamu tidak pernah mengharapkan pertemuan kita.

Kali ini kamu kembali menyiapkan janji untuk menemuiku. Kamu berkata saat ini kamu sedang menuju rumahku. Dengan jarak 2 Km, ternyata membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai rumahku. Terlambat. Dengan setumpuk alasan, lagi-lagi kebohonganmulah yang menggerogoti perbincangan awal. Aku muak !

Kamu memintaku untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Kecewa, lelah, muak, bosan. Semua sudah aku ungkapkan. Setelah pengakuanku itu kamu selalu berkata “Maaf.. aku memang bukan yang terbaik buat kamu”

Apa kamu tahu bagaimana rasanya mendengarmu berkata seperti itu ? Aku seperti ditimbun hidup hidup di dalam tanah dan tanah itu dihantam dengan puluhan beton yang besar. SAKIT ! Kamu juga tidak tahu tentang hal ini ?

Maksud aku mengeluhkan segala ketidak nyamananku ini agar aku dan kamu menjalani hubungan yang sejalan dengan rasa aman dan nyaman. Bukan malah semakin membuatku tertekan !

Entah apa yang merasukimu sampai kamu dengan lancang berkata hal itu denganku. Amat sangat lancang. Apa kamu sudah lupa ? dulu akulah yang memilihmu. Mengejar ngejarmu. Mencari-cari perhatianmu, hingga saat ini kamu jatuh cinta kepadaku. Setega itukah kamu memperlakukan wanita yang kamu cintai ini ?

Oke. Mungkin aku yang terlalu lancang, karena menyeretmu dalam kehidupanku. Memaksamu untuk terus menerus menemuiku, dan mendengarkan rengekanku. Aku tidak pernah sadar bahwa kamu kelelahan memperlakukan aku. Hingga kamu sampai hati mengatakan kalimat tadi untuk aku dengar.


Maaf sayaang.. maafkan aku. Aku yang hanya bisa mengeluh ini itu dan tidak pernah mengerti kamu. Maaf sayaang. Andai kata ‘maaf’  bisa mengembalikan waktu sebelum kejadian yang mengecewakan itu terjadi. Andai saja… I LOVE YOU :*

0 komentar:

Posting Komentar

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template