Senin, 18 Februari 2013

Mengumpat Rindu Pelautku

Dia masih meniupi segelas cappucino favoritnya. Kemudian di seruputnya perlahan. Sepertinya ia merasa kepanasan, dengan melanjutkan tiupan lembut kearah segelas cangkir putih yang di genggamnya. Andai saja aku bisa menjadi cairan coklat yang berada di gelasnya mungkin aku akan terus berada di sampingnnya setiap pagi dan sore hari begini. Sore ini memang jadwalnya menyeruput cairan manis ini. Hanya saja jadwalnya berubah, hari ini menyeruput cairan manis di rumah yang baru di pijaknya sehari yang lalu.

Cangkirnya sudah diletakan diatas meja, sesekali dia memperhatikan jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. Aku masih berada di samping kirinya dan masih menggenggam tangan kirinya dengan begitu erat. Dia masih memandang lurus kedepan, seolah tidak menyadari keberadaanku di sampingnya.

         “sudah lebih dari 5 menit kamu memandangku begini sayang” ucapnya yang menunjukan jam tangan yang sengaja di stopwatch, namun masih tetap memandangan lurus kedepan.
         “Sudah lelah belum ?” lanjutnya.

Aku menggeleng pelan dengan air mata yang tetap tak terekam oleh matanya. Dia membalas genggaman tanganku dengan begitu erat. Sangat erat.

         “Jangan menangis sayang. Aku sudah disini” ucapnya yang mengubah posisi duduknya menghadap kearahku.

Diambilnya sapu tangan dan di usapnya kearah pipiku dengan lembut. Dia tetap tidak menatap mataku hanya mengusap air mataku. Dia ini benar-benar tidak tahu ya kalau aku sering menangisinya ?

         “Jangan kira aku gak tau kalo kamu sering nangisin aku lhoo” ucapnya yang tetap sibuk mengusap air mata yang membuat pipiku kebasahan.

Aku hanya tersenyum memandangnya sedekat ini. Dia ini memang bisa membaca pikiranku ya ? Mendengar suara beratnya ini menelusup ke dalam rongga telingaku membuat aku hampir jatuh lebih dalam ke hatinya. Usapan lembut yang sudah sekian lama tak menyentuhku ini, semakin membuatku rindu untuk pertemuan yang akan datang. Perlakuan manis ini hanya dia lah pemiliknya !

Kesakitan menahan rindu ini karena ribuan jarak,dengan bentangan luas samudra mungkin hanya akan terbayar beberapa hari saja. Apa aku akan marah pada Tuhan ? Tidak ! Aku tidak akan pernah marah. Karena aku telah memilihnya dan aku harus berjuang menjaganya ! Sakit memang tapi ini lah pilihan dan kami harus sama sama berjuang menjaga perasaan yang sama dari waktu ke waktu.

Tak lama di tatapnya mataku dan wajahnya mulai mendekati wajahku. Semakin dekat. Semakin dekat. Amat sangat dekat. Sampai mataku terpejam dan merasakan sesuatu mendarat di bibirku dengan lembut. Sesekali aku merasa bibir bawahku tergigit cukup lama, namun tetap ku biarkan.Dari dulu dia memang begitu manis memperlakukan wanita, terutama aku.

         “Jangan menangis lagi sayang. Aku juga merindukanmu” ucapnya yang berbisik lembut di telinga kananku.

Di raihnya tubuhku untuk jatuh di pelukannya. Hampir tidak ada celah dalam tubuh kami untuk membentuk jarak yang sempat terlewatkan. Begitu rapat. Sangat dekat. Amat sangat dekat. Bulir bening dimataku semakin tumpah seraya menikmati tubuh bidang yang sudah hampir 1 tahun tidak ku sentuh ini. Dia mengelus kain yang menutupi kepalaku, sesekali dikecupnya dengan lembut. Ternyata dia merindukanku juga. Bahkan jauh lebih dalam dari apa yang aku rasakan. 

         "Sudah 10 menit kamu memelukku begini. Sudah lelah belum ?" tanyaku yang memperhatikan jam tangan yang aku kenakan di balik punggungnya yang ku peluk.
         "Belum" jawabnya yang semakin erat memeluk tubuh mungilku.
         "Aku belum mandi lhoo"
         "Biarkan ! Aku suka kamu begini"
         "Maksudmu aku harus terus terusan gak mandi kayak kamu ? Jorok !" ucapku ketus
         "Hahaha pasti wajahnya jelek nih kalo lagi gini. Mana coba aku lihat ?" di longgarkan pelukannya kemudian memperhatikan wajahku dengan begitu dekat. Kurang lebih hanya 5 cm. 
         "Jangan liatin aku begituuuuu !" ucapku yang menjauhkan wajahnya dengan tanganku
         "Mau wajah siapa lagi yang akan aku tatap begitu dekat seperti ini ?"
         "ya wanita lain mungkin ?"
         "oh iya benar ! aku punya wanita lain yang aku tatap seperti ini selain kamu !"
         "hah ? tuh kan bener !" ucapku kesal yang hampir menangis karena kecewa dengan ucapannya.
         "Aku mencintainya, bahkan jauh lebih dalam dibanding aku mencintaimu !"
         "Sudah cukup ! jangan menceritakan wanita lain di hadapanku !" ucapku yang menutup telinga rapat rapat yang di iringi tangis kesakitan yang luar biasa.
         "Dia begitu cantik, hanya doanyalah yang membuatku sukses seperti ini" 

Matanya begitu berbinar saat menceritakan wanita ini. Siapa sebenarnya wanita itu ? Apakah doaku tak pernah dirasakannya ? Apakah sia-sia selama ini aku memeluknya dalam tiap barisan kalimat yang aku panjatkan kepada Tuhan ? Secantik apa wanita itu ? Sesetia aku kah ? Tidak pekakah dia bahwa aku kesakitan mendengar ceritanya ini ?

          "Kamu jangan menangis lagi sayang" ucapnya yang mengambil tanganku dan membuka telingaku.
          "Kamu mau tau siapa wanita itu ?" lanjutnya

Aku hanya menggeleng karena aku kira dia tidak akan melukai kesetiaanku, tapi ternyata dia telah menodai tiap ujung kepercayaanku. Seolah aku dihantam ratusan ton meteor yang panas. Saakkiiitt... 

          "Wanita itu adalah.........................."

          "IBUku sayang. Hanya dia yang aku tatap sedekat ini sebelum kamu. Hanya doanyalah yang mampu membuatku menjadi laki-laki sehebat ini. Hanya dialah wanita pertama yang kulihat cantik. Aku mencintainya" lanjutnya
          "Jangan menangis lagi sayang. Aku mencintaimu setelah mencintainya dan kamu tau itu kan ?" tanyanya yang semakin mendekatkan wajahnya ke arahku.

Ku pukul tubuhnya keras-keras. Dasar ! laki-laki di hadapanku ini selalu membuatku takut kehilangan. Sikapnya tidak pernah bisaku tebak !

          "Pergilah sejauh jauhnya dariku. Umpat saja rasa rindumu. Abaikan saja aku. Aku yakin kebahagiaanmu akan sirna" ucapku yang kesal dengan guyonan yang dianggapnya lucu ini
          "Jangan marah sayang. Nggak akan aku biarkan itu semua. Karena hanya kamu yang membuat aku bahagia. Iya kan ?" ungkapnya dengan pasti

Aku mengangguk pelan. Di kecupnya dahiku lekat lekat. Hidungku kemudian bibirku.

          “Terimakasih telah menungguku selama ini. Terimakasih telah menjaga perasaan yang sama dari waktu ke waktu. Terimakasih telah menjadi wanita kuat yang selalu berdoa untukku dan terimakasih telah mau menjadi istriku”
          “Aku mencintaimu” lanjutnya
          "Aku juga. Jangan bercanda aneh aneh lagi !" ucapku membalas kecupan bibirnya kemudian memeluk tubuhnya rapat-rapat.
          "Iya sayang gak lagi-lagi. Maaf yaa.."
          "Iyaaa"
          "Laut hanyalah pekerjaan tapi tempatku kembali adalah daratan"

1 komentar:

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template