Rabu, 16 Januari 2013

Maafkan aku sayaang...

Aku sadar betul, wanita yang sedang duduk disamping kananku ini memandangku dengan begitu dalam. Perhatiannya kemudian berpaling menuju tangan kananku. Tak lama di raihnya tanganku dan di genggamnya dengan tangan kiri. Dia menggenggam tanganku begitu erat di pangkuannya. Sesekali di kecupnya berulang ulang, aku tahu betul ini adalah wujud rasa takutnya kehilangan laki-laki sederhana seperti ku. Entahlah apa yang dia lihat dariku sampai-sampai hampir semua air matanya menjurus kepadaku.

Kali ini ku saksikan, wanita yang duduk disampingku ini menangis. Tetesan air matanya membuatku kesakitan. Berulang kali aku memintanya untuk berhenti menangis tetapi dia tidak mampu melakukannya.

         "Kamu tahu gak ? Setiap hari aku nangis dikosan !" ungkapnya dengan airmata yang berlinangan.
         "dan apa kamu tahu ? kalo aku harus nunggu temen sekamarku tidur nyenyak dulu baru aku bisa nangis !" lanjutnya.
         "Kamu gak perlu nangis sayaang ! sekarang aku ada disini" ucapku, sambil ku usap airmata di pipinya yang menetes deras dengan tangan kiriku.
         "Apa kamu tahu ? Dalam derasnya hujan dan suhu udara yang dingin. Keadaan memaksaku untuk terus menerus mandi agar aku bisa menangis di kamar mandi !" ungkapnya yang sudah tidak kuasa menahan sakit yang dirasakannya.
         "Apa kamu tahu ? Dalam setiap sujudku aku selalu menangis dihadapan Tuhan. Agar Tuhan menahan rasa rindu ini untukku !"
         "Aku sakit tanpamu bee...!" lanjutnya yang mulai menyandarkan tubuhnya di pundakku.

Rasanya aku ingin bunuh diri melihat airmatanya. Aku tidak pernah sadar, bahwa 15 hari aku meninggalkannya tanpa kabar, akan membuatnya sesakit ini. Rasa sayangnya sulit aku gambarkan. Dia memang berlebihan mencintai ku, tapi aku tidak pernah permasalahkan hal itu. Aku bangga menjadi pemiliknya selama setahun terakhir ini. Aku laki-laki terbodoh. Aku menyesali. mengapa aku baru sadar, ada wanita yang begitu mencintaiku setelah ibuku, yang begitu kesakitan menahan rindunya kepadaku. Padahal aku meninggalkannya karena tugas dinas keluar kota untuk menghidupi masa depan kami.

        "sudah sayaang... jangan menangis lagi" ku bangkitkan tubuhnya untuk menghadapku.
        "aku juga merindukanmu sayaang, ayo senyum. Jangan nangis lagi" ungkapku, kemudian ku peluk tubuhnya erat-erat
        "sudah sayaang jangan menangis lagi. Maafkan aku." lanjutku dan ku usap kepalanya yang tertutup kerudung perlahan.

Suara isakan tangis tidak kuasa di hentikan olehnya. Sesekali dia harus mengisak tangisnya karena ku paksa untuk menahannya. Aku paham betul itu rasanya sakit, tapi aku berharap dia tidak sering-sering bermain dengan airmata. Hatiku selalu teriris saat mendengarnya menangis, terlebih lagi saat menyaksikannya begini.

        "Roby..." panggilnya ditelingaku saat ia sudah sanggup mengatur nafasnya.
        "Apa sayaang ? Aku terlalu erat mendekapmu ?" ku lepaskan pelukanku perlahan.
        "Jangan lepaskan bee.. Aku merindukan pelukanmu ini" diraihnya tubuhku dan dipeluknya erat.
        "Iya sayaang, gak akan dilepas" ucapku memeluknya lagi.
        "Aku mencintaimu sayaang" lanjutku, yang mendekatkan bibirku ke bibirnya.
        "Aku juga mencintaimu. Jangan pergi-pergi lagi bee !" ucapnya yang menggigit bibirku pelan.
        "Aaww.. Iya istriku"

0 komentar:

Posting Komentar

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template