Rabu, 16 Januari 2013

Berbahagialah Sahabatku ♥

Namanya Annisa Sukma Dewi. Aku mengenalnya saat masuk Perguran Tinggi di Jakarta Barat. Kami satu kelas dan bisa dikatakan kami sudah menjadi sahabat yang amat sangat dekat dengan perjumpaan yang sangat singkat. Dia cantik. Aku suka dengan setiap jilbab yang dia kenakan dengan berbagai farian. Bahkan saat ini dia berhasil menjadi tentorku berhijab.

Aku hampir tidak pernah melihatnya menangis. Dia adalah wanita yang paling riang yang aku temui selama 18 terakhir hidupku. Dia sama sepertiku, segala sesuatu kejadian selalu ditulis. Dan hampir semua tulisan yang tertulis di bindernya bersamaku itu hal-hal yang selalu membuat kita menarik tawa. Mungkin itu hanya dunia kami, dan hanya kami saja yang tahu.

Dalam keceriaannya, ternyata dia memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang. Dia adalah wanita cengeng, pengecut dan tidak pernah berfikir realistis. Aku berpikir, bahwa dia adalah wanita bodoh yang selalu  berbicara dengan benda dua dimensi yang ada dalam dompetnya. Saat dia sendirian di sudut belakang ruang kelas dia selalu bercerita kejadian hari ini dan mengobrol dengan benda tersebut. 'GILA' pikirku. Tapi mungkin karena umurnya lebih muda dariku jadi dia tampak terlihat memiliki dunianya sendiri.

Suatu ketika aku sengaja tertidur di bangku belakang. Bangku dimana biasanya Annisa bercerita dengan selembar foto yang diselipkan dalam dompetnya itu.
        "Dewi..Dew.. Dewi.. Aku duduk sini yaa" Pangilnya dengan menepuk pelan punggungku. Aku tetap ingin menidurkan kepalaku tanpa menengok kearahnya.
        "Tak ada jawaban ? itu tandanya IYA hahaha" lanjutnya. Dasar ! Dia selalu saja menggunakan keputusan sepihaknya. Tanpa banyak bicara dia mulai membuka dompetnya dan memandangi benda dua dimensinya.
        "Selamat siang sayaangku. Aku lagi pergantian mata kuliah sekarang. Kamu sudah ISOMA ? Jangan  lupa makan yaa kamu. Aku sayaang banget sama kamu. Kamu apa kabar ? Kok gak sms dan telfon aku lagi ? Sudah 113 hari suaramu tidak menyegarkan telingaku. Apa kamu disana sakit ? Cepat sembuh kalau begitu. Jangan lupa minum obatnya. Aku merindukanmu. Apa kamu juga begitu ?"

Benar saja. Aku merasa kasihan atas apa yang dilakukannya. Wajar saja, dia tidak pernah mau aku jodohkan dengan teman-temanku atau pun senior kampus yang menyukainya. Dia tetap setia dengan laki-laki yang masih bertahan dalam dompetnya. Nyatanya laki-laki itu sudah tidak pernah menghubunginya 4 bulan terakhir ini. Laki-laki bodoh macam apa dia ? yang mengabaikan dan mengacuhkan gadis secantik dan sebaik sahabatku ini. Tolol.

        "Sayaang.. nanti setelah pulang kuliah aku langsung pulang ke Bogor lhoo.. Kira-kira mau ketemu aku gak ? Aku udah kaaaaanngggeeeeeennnnn banget ! sama kamu ! Percaya deh ! banget banget banget kangennya"

Mendengar suaranya yang bergetar aku paham benar dia menahan tangisnya. Menahan kesakitannya untuk berjuang menjemput kesetiaannya yang nakal. Kesetiaan yang tidak pernah dia ketahui bahwa diluar sana kekasihnya membabi buta dengan brutal. Entah apa maksud Tuhan memberikan kesetiaan yang luar biasa kepada wanita cantik ini, tetapi selalu saja diabaikan laki-lakinya. Andai aku dilahirkan sebagai laki-laki, aku akan berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk menjemputnya sebagai jodohku. Sayangnya aku  wanita. Dan aku telah gagal menjadi sahabatnya karena tidak pernah tahu keadaannya.Sahabat macam apa aku ini Tuhan ?

         "Kapan kita ketemu ? kapan kamu akan membuat aku kehujanan lagi ? Aku rindu tetesan hujan yang membuat kita basah kuyup di bawahnya. Aku rindu pelukan hangat yang membuat aku tetap hangat walau aku menggigil kedinginan. Kamu dimana bee ?"

         "Biyan Wijaya. Aku hampir sulit menahan sakit yang aku rasa. Jika bukan tanpamu aku tidak mampu bertahan. Kapan aku mampu mendengan suaramu lagi ? Kapan aku bisa membaca tiap jentik jemarimu menuliskan pesan singkat untukku ? Kapan lagi bee ?"

Suara isaknya sudah mulai terdengar. Dia kesakitan, Yaa.. Kesakitan yang teramat dalam. Bahkan dikelas dia adalah pakar mengatasi masalah percintaan. Ternyata asmaranya tidak sebaik solusi yang diberikan untuk semua teman-teman di kelas. Aku nyaris sulit membendung airmataku yang menetes karena kegagalanku mengerti keadaannya yang begitu mencintai kekasih bodohnya itu. Dia memang tidak pernah berusaha berfikir realistis. Padahal sudah ditinggal kekasihnya selama hampr 4 bulan, dan dia selalu saja berkata "Aku sudah punya pacar, dan kami baik-baik saja". Wanita macam apa ini ? terbuat dari apa hatinya Tuhan ? Sadarkanlah dia, dekatkanlah sahabatku ini dengan jodohnya sesegera mungkin ya Tuhan !

        "Aku masih berharap setiap sujudku, Ya Tuhan hamba berharap Biyan Wijaya kelak akan menjadi imam yang baik untukku dan anak-anakku ya Tuhan. AMIN. Apa kamu memiliki doa yang sama sepertiku bee ? I love you"

Tuhan.. Aku memang sahabat yang jahat. Jikalau hamba berkenan, tolong jauhkanlah laki-laki yang bernama Biyan Wijaya dari kehidupan sahabatku Annisa Sukma Dewi. Untuk kesekian kalinya Biyan membuat Annisa menangis Tuhaaan. Tolong berikanlah kebahagiaan untuk Annisa ya Tuhan. AMIN.
Langsung ku palingkan wajahku menghadapnya. Dia begitu terkejut saat melihatku berlinangan air mata mendengarkan dan merasakan kesakitannya.

        "Dewii.. kamu kenapa nangis ?" tanyanya yang tiba-tiba menutup benda dua dimensinya kemudian berusaha meraih tubuhku.
        "Berbahagialah sahabatkku, walau tanpanya" ucapku sambil ku peluk tubuhnya dengan erat.
        "Aku sudah punya pacar, dan kami baik baik saja" ungkapnya dengan menepuk punggungku pelan.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template