Rabu, 21 November 2012

Diam-Diam

Seperti biasa aku mulai mencari cari laki-laki manis yang duduk di bangku belakang. Senyumnya tampak urung di perlihatkan. Ada apa dengannya ? langkahnya mulai tertatih pelan, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan. Ah biarkan lah, itu bukan urusanku.

Tidak ada yang dapat dibanggakan dari sosoknya. Laki laki berkulit hitam, tinggi, cuek bahkan menurutku dia adalah laki laki 'sok' ganteng, diam diam mampu merampas habis pandanganku pagi ini bahkan untuk pagi pagi sebelumnya di kampus.

Tidak ada satupun yang mengistimewakan dirinya tapi tetap aku perhatikan. Aku tidak pernah tahu, bahwa hanya aku saja atau bahkan banyak yang menjadi pemerhatinya selain aku ? Ah masa bodo lah itu urusan nanti. Sekarang sudut perhatianku telah berpusat padanya. Aku juga tidak peduli bila salah satu pusat perhatiannya bukanlah aku.

"Dear Perampas Perhatianku 
Tidak banyak yang aku tahu darimu. Yang jelas kamu sempat merenggut semua perhatianku di tengah kerumunan makhluk sejenismu. Entah perasaan ini apa namanya, aku tidak pernah tahu. Yang jelas, ruangan berbentuk persegi yang terletak di lantai 5 adalah saksi bisu pemerhatiku terhadap sosokmu. 
Entah apa yang dapat aku banggakan dari dirimu. Tidak ada kesempurnaan yang mampu aku ceritakan tentangmu, tapi bukankah cinta seharusnya mencintai kekurangan pasangannya ? SIALnya kamu bukan pasanganku jadi apakah aku berhak menerima dan mencintai kekuranganmu ? andai kamu tidak mengizinkan aku akan tetap mencintaimu diam diam. Diam-diam sayang, dibelakang semua makhluk di kelas kita dan di belakang kekasih kita. Percayalah. 
Korban perampasan perhatianmu"
 Dia berhasil merampas semua perhatianku,melumat beberapa kesempatan untuk bersentuhan dengannya dan mencuri beberapa waktu agar sebuah kalimat meluncur manis untukku. Andai saja tak ku ketahui namanya mungkin aku akan mampu mencintainya secara utuh. Benar benar utuh. Yaa.. utuh. Hanya sebatas diam diam.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template