Rabu, 03 Oktober 2012

Kebahagiaan Terlarang

Lagi lagi aku menjebakan diri kedalam perangkap yang memaksaku untuk menyekap hati seseorang di dalamnya. Lagi lagi aku menenggelamkan diri dalam kubangan kepahitan yang melukai perasaan sesama. Ah masa bodo saja lah.. Aku ini memang "wanita tak berprasa", "wanita tak berotak", "wanita perampas kebahagiaan" begitu kata kekasihmu kan ?

Aku paham betul kita sudah tidak mampu bersua dan menyebutkan kata 'sayang' di tengah kerumunan banyak orang. Kalimat itu mungkin akan tertahan dalam mulut kita masing masing, tapi tidak untuk hati kita. Hatimu dan hatiku akan tetap bergejolak untuk menyatukan kembali serpihan hati yang pernah hancur.

Oke, kehancuran waktu itu adalah kesalahanku. Mengabaikanmu begitu saja dan mulai menjalin kasih dengan sahabatmu sendiri. Tapi saat itu sahabatmu mencuri perhatianku lebih dalam di bandingkanmu. Dia mampu merampas semua kesedihan dan  mengubahnya menjadi senyuman. Tapi itu kan hanya masalalu, dulu.

Dan aku baru tersadar ternyata dia tidak seindah kamu yang rela menahan tangis walau aku melukaimu sampai sakit meringis. Tapi dia tidak sepertimu yang mampu mendoakanku secara diam diam dengan mengadahkan tanganmu kepada Tuhan. Tapi tidak sepertimu yang rela memberikan semua yang kamu punya hanya untukku. Tapi dia tidak sepertimu !!!..

Sekarang lah saatnya kita perbaiki semuanya. Akhiri hubunganmu dengan ke kasihmu dan aku akan melakukan hal yang sama ! Bagaimana ?

Dari pada aku dan kamu terus menerus mencintai secara diam diam di belakang mereka. Hubungan diam diam ini sudah 2 kali ke pergok pasangan kita masing masing, apa kamu ingin kembali kepergok untuk ke 3 kalinya ? Kalo bukan karena aku mencintaimu sudah aku sobek mulut kekasihmu itu karena menghinaku seenak jidatnya, tanpa tahu bagaimana perasaanku dan perasaanmu !

Aku menunggu kepastianmu mencintaiku.. Ingatlah bahwa kamu hanya mencintaiku. Sampai kapankun kamu akan tetap menjadikan kekasihmu itu hanyalah sosok pelarian dari ku. Pikirkan perasaannya dan kebahagiaan kita berdua ya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template