Rabu, 17 Oktober 2012

Hanya Begini (?)

Sabtu, 14 Oktober 2012

Hari ini tak ubahnya hanyalah sebuah cerita sederhana yang penuh rasa lara. Entah hanya aku saja atau kamu juga merasaknnya ? Aku masih saja menciumi aroma tubuh yang sama seperti minggu lalu. KAMU. Keadaan terus memaksamu memunggungiku terus menerus, karena kendaraan yang kamu kendarai. Aku masih memelukmu, seraya takut kehilangan sosokmu (lagi).

Lingkaran tanganku di perutmu hanyalah sebagian rasa rindu yang tumpah dalam hangatnya dekapanmu yang belum pernah aku rassakan. Tetesan airmataku tumpah dengan sendirinya, meluncur dengan sederhana, tanpa suara dan tanpa isakan. Diam diam aku melepaskan pelukanku, hanya demi menghapus air mata yang hampir jatuh di atas jaket yang kamu kenakan.

Aku menikmati punggungmu, mendengarkan suaramu tanpa melihat manisnya wajahmu. Kamu tetap membiarkanku memeluk tubuhmu. Apakah begini cara orang sibuk melepas rindu dengan pasangannya ? Tanpa tatapan semua seolah baik baik saja. Apakah begini caranya orang yang saling mencintai karena jarak ? Karena terlalu sering berbicara di telfon, berdiskusipun hanya seperlunya. Apa begitu ?

Aku tidak menyalahkanmu, hanya saja mengapa Tuhan satukan kita untuk menjauhkan kita dengan 'jarak' ? Mengapa rasa rindu kita tidak benar benar mampu terealisasikan ? Pada kenyataannya kita hanya saling menyalahkan kesibukan kita masing masing. Apakah begini seharusnya ?

Masih kamu biarkan aku memeluk tubuh bidangmu, menyenderkan kepalaku dibahumu. Kemudian laju motormu perlahan melambat, kemudian berhenti. Tepat di loket utama stasiun. Disinilah kita berpisah, tanpa suara kita terpisah. Tidak hanya satu dua kali aku rasakan hal seperti ini. Tapi bodohnya aku tetap bertahan. Coba berikan aku alasan mengapa aku masih bisa bertahan dengan sikap sebodoh ini ?

Hembusan nafasku masih saja menyebutkan namamu, tapi kamu ? Aku tidak akan pernah mau tahu, hembusan nafasmu bersua nama siapa ? Aku selalu merindukanmu. Akan terus menurus merindukanmu.

Masih dengan perasaan yang sama. Aku mencintaimu. Percayalah KIKI.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template