Rabu, 05 September 2012

Sebenarnya apa maumu ?

111 hari yang lalu, baru saja kamu mengakhiri semuanya. Menghentikan ku, untuk menyebut aku dan kamu dengan sebutan KITA. Melarangku untuk memberi peringatan terhadap hal hal yang tidak aku sukai dengan kehidupanmu yang ku anggap buruk. Menghentikan kalimat sayang yang setiap hari ku luncurkan untukmu. Hanya untukmu sayang, tidak untuk laki laki lain !

Entah mengapa saat 111 hari yang lalu kamu begitu membiarkanku menangis karena harus melepasmu. Melepasmu yang sudah bosan menjalani genggaman erat bersamaku. Walau hanya 30 hari kita lalui dengan pasti, dan tanpa masalah yang berarti, aku begitu mengerti bahwa selama ini, aku tidak pernah kamu cintai. Seolah aku menghirup atmosfer yang lain, sebuah gas karbondioksida yang memaksaku untuk bertahan. Padahal aku bisa mati karenanya. Kamulah karbondioksida itu ! Pembunuh perlahan di tengah aktifitasku.

Kamu berulang kali berucap perpisahan kepadaku. Namun, hari berikutnya kamu berkata layaknya manusia yang takut kehilangan belahan jiwanya. Kamu mempersembahkan banyak lagu perpisahan yang memaksaku untuk menghindar dan enyah dalam ingatanmu. Tapi, kemudian kamu malah mempersembahkan perhatian yang membuatku tetap tinggal di hatimu. Kamu terus menerus mengirim pesan yang memaksa untuk melupakan semua kenangan. Tapi bahasa tubuhmu seperti memperjelas kenangan kita.

Kamu masih saja mengkhawatirkanku yang kian hari kian sulit menjaga kesehatan, setelah kepergianmu. Kamu masih saja menghubungiku dengan alasan untuk menjalin komunikasi. Kamu masih saja berucap sayang jutaan kali tapi kamu enggan untuk memperjelas status kita. Sampai kapan kamu mengajakku bermain dalam permainan bodoh ini ? Permainan yang penuh ketidakpastian. Permainan yang cenderung merugikanku. Aku selalu terlihat seperti seorang pecundang karena, aku masih belum paham apa motifasi permainan ini.

3 hari yang lalu Tuhan pertemukan kita. Kamu masih saja mengkonsumsi asap sumber segala asmaku kumat. Sebatang rokok masih dalam genggaman tangan sebelah kirimu, karena tangan kanan mu memaksa untuk berjabat tangan denganku. Aku tidak berani menatap matamu. Mata yang sering berubah ubah atas segala permintaannya. 

Aku sudah tidak bisa melarangmu untuk mengkonsumsi asap segala penyakit kesehatan itu. Kamu pasti akan sangat marah saat aku mencegahmu untuk hentikan hal bodohmu itu. Apa sebenarnya yang kamu nikmati dari asap itu ? Ah sudahlah.. terserah kamu saja. Kamu sudah bukan dari bagian hidupku lagi. Tapi apakah aku tidak boleh memperhatikanmu ? Ah sudahlah.. kamu juga tidak membutuhkan perhatianku. Kamu kan tidak pernah mencintaiku ! iya kan ?

4 komentar:

  1. Tulisan ini semacam... ahh..

    Sudahlah...

    Merokok emang gak baik kok :)
    Apa lagi melihat pria yang memunggungi waktu sambil merokok.

    BalasHapus
  2. Sabar ya mbak, ayo mulai kehidupan yang baru...
    Waah, kalau bicara tentang asap rokok, huffft :(

    Semangat mbak, jalani hari esok dengan hati yang damai ^^
    Salam kenal ya mbak

    BalasHapus
  3. jangan sia"kan waktu untuk mikiri orang yang tidak peduli dengan dirinya sendiri.. :D

    klw dia cinta pasti dia kn b'usaha b'ubah demi cintanya.. ^^

    BalasHapus
  4. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    jujur dalam segala hal tidak akan mengubah duniamu menjadi buruk ,.
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

    BalasHapus

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template