Minggu, 02 September 2012

DIARY

Aku terdiam kemudian membuka kembali sebuah buku usang yang sudah usang. Buku diary teman satu satunya saat, aku harus berlari menjauh dari semua teman teman. Memang sulit menyembunyikan sebuah perasaan yang menyedihkan, tapi beginilah aku, saat aku harus benar benar menangis sendiri tanpa orang lain harus mengetahui.

Ku buka tiap lembar kekecewaanku tertuang disana.

"Entah mengapa kamu itu seperti virus, yang terus menerus menggerogoti. Membuat sistem kerja syarafku menjadi lemah hingga tubuhku menjadi lumpuh"
"Bayang bayang mu itu seperti hantu, tidak pernah diharapkan kehadirannya, tapi selalu muncul tiba tiba. Membuat batas realitisku serasa tertipu. Menjadikan logikaku tidak berfungsi selayaknya keadaan yang sebenarnya."
"Bahkan bodohnya aku, yang selalu menggantungkan jutaan harapan kepadamu. Padahal kamu bukanlah akar pohon yang kuat melainkan kamu hanyalah teratai. Yang berdaun lebar yang ternyata tidak secantik permukaannya. Permukaannya cantik namun menenggelamkan. Ya.. itulah kamu !"
"Apakah kamu sadar aku ini mencintaimu ? Alah kamu ini seperti patung saja. Pura pura tidak melihat dan mendengarku, padahal kamu begitu memperhatikan setiap sudut tingkah polahku !" 
"Bisakah kamu mencintaiku ? Sapa aku, kemudian kecup dahiku. Walau dalam kenyataannya aku belum pernah merasakannya. Bisakah hal itu terulang kembali dalam mimpi ?" 
"Sudah lah, kamu itu muncul tiba tiba dan pergi seenaknya. Sebenarnya kamu itu lupa untuk memfungsikan otakmu ya ?" 
"Sampai kapan aku terus menerus menyuarakan namamu, tapi nyatanya ? melirikku saja, kamu enggan !"  
"Sudah lah.. aku mencintaimu dan cukup Tuhan yang tahu hal ini !"
"Serius ! aku tidak pernah berikan bibirku kepada siapapun kecuali denganmu !" 
"Aku lelah, bolehkah aku berhenti memperjuangkanmu ?"
"Kapan saatnya aku dan kamu menjadi KITA ? aku tidak sabar, sungguh aku berharap kejelasan. Ketidak pastian itu menyesatkan !"

0 komentar:

Posting Komentar

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template