Jumat, 06 Juli 2012

Untuk Pemujaku yang Tertangkap


Kali ini lagi-lagi ku pergoki mata itu memandangiku. Mata dari sosok laki laki yang mengagumi seorang wanita. Mata dari sosok pengagum rahasia yang tertangkap basah hanya karena kecerobohan kecil. Insting ku terlalu peka untuk merasakan tatapan itu.

Aku menyadari betul tatapanmu yang setiap waktu menjadi pemerhati gerak gerikku. Tatapan yang seolah memancarkan kebahagiaan dan hiburan tersendiri untukmu. Tatapan yang seolah menjadi semangatmu untuk berangkat sekolah dan kembali menatap orang yang sama(aku). Tatapan yang membuatmu menjadi sosok laki laki yang paling bahagia, saat tatapan yang kau berikan dibalas dengan segaris senyum simpul.

Tapi siapa sebenarnya yang kamu tatap ?

AKU ! AKUlah jawabannya. Tiada bosannya kamu memandangiku. Tiada bosan kamu tersenyum karena kelakuan bodoh yang sering aku lakukan.

Entah apa yang kamu kagumi dari sosok ku yang cenderung bertingkah laku seperti anak kecil. Aku hanya anak perempuan berusia 17 tahun yang masih berfikir dewasa saat keadaan yang memaksaku melakukan itu. Hanyalah anak perempuan yang selalu berkuncir kuda, memiliki tinggi tidak lebih dari 155cm, yang memiliki kulit sawo matang atau bahkan cenderung hitam. Aku anak perempuan yang masih suka berlari lari, yang masih suka lompat lompat, yang masih suka mengumbar kebahagiaan, yang masih suka menangis dan masih suka mencari perhatian dengan kecentilan yang menjadi kelebihan.

Tapi Bagian mana dari ku yang kamu lihat ?

Setiap hari selalu tatapan itu yang aku temui. Siapa pemilik tatapan itu ? KAMU ! Kamu pemiliknya ! Lucu memang, kamu ingin menjadi pengagum rahasiaku secara diam diam. Tapi kamu tidak dapat lakukan itu. Kamu tidak seprofesional aku.

Tenang saja, aku tidak marah dengan tatapanmu itu. Aku tidak risih dengan pandanganmu yang lebih tertuju kearahku dari pada papan tulis di depan. Aku tidak kecewa saat aku memandangmu dan kamu pura pura melihat ke tempat lain sembari salah tingkah.

Kini aku dan kamu telah melepaskan seragam abu abu. Seragam yang sering kamu kenakan selama 3 tahun terakhir dengan memandangiku sebagai suplemen semangatmu. Aku hanyalah sebagian kecil yang memacumu untuk menjadi sosok laki laki yang utuh. Sosok laki laki yang memiliki perasaan normal layaknya laki-laki yang lain, yang mampu mengagumi sosok seorang wanita.

Tapi Bagian mana dari ku yang kamu kagumi ?

Entahlah… Sekarang tatapan itu sudah tidak menghantuiku lagi. Tatapan itu sudah tidak ada saat pagi ku berangkat sekolah. Tatapan itu sudah tidak ada lagi saat aku kembali melirik ke bangku belakang. Tatapan itu sudah tidak datang untuk memintaku memberi senyum simpul setiap harinya. Tatapan itu sudah habis masanya saat kita harus terpisah untuk masa depan yang akan mengantarkan kita menuju gerbang masadepan. Tapi apakah benar sudah kadaluarsa ?

Jika IYA. Aku merasakan penyeslan disini (dibaca : hati). Aku hanya mampu melempar senyum saat kamu memandangku. Hanya mampu membuatmu bahagia sebentar (3 tahun). Hanya mampu membuat hari harimu tak semenarik layaknya anak SMA seusia kita. Aku mungkin hanyalah penghancur hatimu, menjadikannya puing puing dan serpihan yang sulit untuk di satukan lagi. Aku adalah benalu yang kamu kagumi, aku hanyalah benalu. Kamu tau benalukan ? ITU AKU ! Kenapa bisa kamu kagumi benalu ? dasar BODOH kamu !

Aku sedikit lega saat tatapan itu sudah habis masanya. Aku sudah lebih tenang saat aku sudah tidak terbebani rasa bahagiamu yang ku balas karena senyumku. Benarkah sudah kadaluarsa ? Jika IYA, mungkin aku merindukan tatapan itu. Tatapan dari seorang anak laki laki yang mengharapkan anak perempuan untuk setiap hari membuat garis di wajahnya. Dan mungkin Aku RINDUKAN MATA ITU !


4 JULI 2012
Merindukan mata itu
Yang selalu menjadi hantu
Dan selalu tertuju untukku

0 komentar:

Posting Komentar

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template