Sabtu, 21 Juli 2012

Tuhan Penuhi Janji


Entah dalam kisah ini siapa yang akan disalahkan nantinya, aku tidak tahu. Entah itu Aku,dia,dirinya atau kamu yang membaca cerita ini. Mungkin menurutmu ini adalah kisah klasih ala romansa anak SMA. Namun aku merasa ini terlalu rumit, atau mungkin karena aku pemain utamanya ? tapi entahlah, yang pasti sampai saat ini jalan keluar itu belum aku dapatkan.

Seperti pagi lalu dan pagi yang sebelumnya, aku masih memandangnya. Ya.. dia. Dia yang bertubuh bagus, berjalan tegak dan pemilik pandangan yang tajam. Dia pemilik kulit coklat, setinggi berkisar 5,5 kaki, usianya lebih tua dariku 1 tahun tapi kami satu angkatan.

Jangan berfikir bahwa dia terlambat atau bahkan pernah tidak naik kelas ya… tapi karena akulah yang terlalu muda untuk kelas 12 SMA. Aku lebih cepat menginjakan kaki ke bangku sekolah karena keinginanku untuk menempuh pendidikan. Ambisi ini yang mendorongku untuk lebih dulu masuk bangku sekolah dari usiaku.

Baiklah kita kembali membahasnya. Aku memanggilnya FIKRI. Saat ini dia tetap memandang lurus kedepan saat berjalan. Ya.. aku sedang memandangnya dari kejauhan. Dia tidak akan pernah menengok bila tidak ada yang menegurnya. Tak lama, seseorang menepuk pundaknya dan itu memecahkan lamunanku. Siapa lagi, yang menegurnya dan memecah lamunanku itu. Fikri di tegur oleh temannya,kawannya atau mungkin sahabatnya. Ya.. dia bernama PUTRA. Berkulit hitam, bertubuh lebih besar dan memiliki tinggi yang sama dengan Fikri.

Kalian tau ? Mengapa aku terkejut saat PUTRA memecahkan lamunanku saat aku memandang FIKRI ?

Jadi begini ceritanya …

(Kelas 11)
Aku adalah seorang remaja yang masih mencari jati diri. Aku adalah remaja biasa, tidak cerdas bahkan tidak pula cantik. Tidak ada dalam diriku ini yang patut di banggakan, tapi entah mengapa PUTRA mengagumiku secara diam-diam. Entah apa yang bisa di kagumi dari sosokku ini, yang masih seperti anak usia 8 tahun, masih suka tertawa,melompat lompat dan berlari lari di koridor.

Aku juga bukan wanita pemilik tubuh sexy, memiliki kaki jenjang, berkulit putih atau bahkan pemilik tinggi yang ideal. TIDAK ! Namun aku sebaliknya, Jelek, pendek dan pemilik kulit sawo matang atau cenderung hitam. Putra selalu berkata bahwa aku ini “Baik,manis,pintar”. Ah.. aku tak terlalu ambil pusing atas pendapat bohongnya itu.

Aku mengetahui bahwa Putra mengagumiku dari teman temanku yang lain. Ya.. Putra tidak akan bisa mengagumiku secara diam-diam, karena semua teman temanku berusaha menggodanya denganku. Karena aku tau dia menyukaiku, mau tidak mau aku harus menjaga perasaannya. Walau sebenarnya aku menyukai orang lain.

Aku menyukai laki-laki pemilik senyum manis, sebut saja namanya FIKRI. Salah satu siswa exsact. Yang pertama kali menarik perhatianku adalah saat pertama kali melihatnya tersenyum “manis” begitu kataku. Mungkin aku tidak bisa sesering Putra yang setiap hari di kelas mampu melihatku lama lama karena putra adalah teman sekelasku, tapi itu tidak membuat aku penasaran atau bahkan sedih. Aku hanya berfikir “ada waktunya, nanti, senyumnya mampu ku lihat dekat” itu janji Tuhan, dan mungkin belum sekarang waktu itu tiba.

Selidik punya selidik, FIKRI dan PUTRA adalah sahabat. WOW !! Salahkah aku menyukai FIKRI ? Setelah aku mengetahui hal ini aku membiarkan saja perasaanku tertahan, bahkan aku berusaha melupakan senyuman manisnya itu.

Saat itu aku sedang dekat dengan teman SMPku dulu. Sebut saja namanya WAWAN. Orangya sederhana, cerdas, postur tubuhnya kurus walau tidak terlalu tinggi. Semakin lama aku dan Wawan semakin dekat, ini cukup membuatku melupakan senyum Fikri.

Aku dan Wawan kini menjalin hubungan yang disebut Pacaran. Baru satu bulan berjalan kami resmi berakhir dengan alasan “aku menyukai orang lain, dan aku tidak ingin menyakiti hati Wawan”. Mau tidak mau Wawan harus menerima keputusan sepihak dariku ini. Ya.. mau bagaimana lagi. Senyuman Fikri selalu menghantuiku terus.

Singkat cerita, kami semua sudah menduduki puncak teratas di bangku SMA. Ya.. kami kelas 12. Berawal dari keisenganku mengirimkannya pesan facebook dan semakin lama semakin dekat dengan bercanda canda kecil yang membuat hati kita tergelitik. Bila kita bertemu, kita hanya saling melempar senyum diselipkan tawa kecil meledek.

Suatu ketika ponselku tercebur dalam air, padahal keesokan harinya kami akan mengambil nilai atletik di kampus UI. Sesegera ku angin anginkan ponselku kemudian aku nyalakan tetap tidak mau menyala. Akhirnya aku meminjam ponsel salsa dan mengeluarkan simcard ku untuk di taruh di ponsel adikku. Kemudian aku aktifkan.

Entah ini memang takdir Tuhan atau bukan. Aku tak mengerti tapi mengapa hanya ada nomor ponsel Fikri satu satunya yang berada dalam sim card ku. Saat itu mau tidak mau aku harus menghubuginya untuk mendapatkan nomor ponsel teman temanku.

Dari kejadian konyol itu kita mulai dekat, begitu dekat, sangat dekat. Hampir setiap malam minggu Fikri main kerumah, aku mampu melihat senyumnya dekat, ternyata Tuhan penuhi janjinya. Hingga aku dan Fikri mengikat janji yang disebut PACARAN. Semoga ini berjalan seindah awal aku memujanya dalam diam. Amin.

Jangan tanya bagaimana kabar PUTRA kepada ku yaa.. mungkin Puta akan kecewa kepadaku karena aku mencintai sahabatnya ini. Oleh karenanya aku tidak memberitahu kabar bahagia ini kepada siapapun kecuali mamahku. Maaf.

 Jangan tanya bagaimana WAWAN yaa.. sekarang Wawan sudah menjadi pemilik dari wanita cantik yang berjilbab. Semoga bisa lebih bahagia. Amin

Doakan saja aku mampu merangkai senyum abadi dengan laki-laki yang menjadi pilihanku ini, menjadi pemilikku dan menjadi pelindungku nanti. AMIN J


23 April 2012
Masih tersimpan manis dalam Ms. Word
Cuma bisa di baca berulang ulang
Dan hanya aku yang mengenang

0 komentar:

Posting Komentar

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template