Selasa, 03 Juli 2012

Apa Begini Tulisanmu ?


Ini pembicaraanmu ::

Ini bukan surat cinta yang sengaja aku tulis untukmu (mu : tertuju untukku), tapi ini hanyalah sebatas isi hatiku untuk kembali mengingat dan kembali membawamu kedalam masalalu.

Apa kabar kamu, pemilik pipi gembul ?

Hai, wanita cantik yang dulu sering kusebut “mbem”. Sebutan itulah yang mungkin selalu menghiasi ponselmu, walau hanya sebatas pesan singkat atau jaringan telfon tanpa kabel. Aku rindu memanggilmu itu, pangilan yang ku sering sebut karena pipimu yang berisi itu. Pipi itu akan lebih terlihat bila kamu tersenyum, kamu terlihat lucu. Rasanya ingin aku cubit, kamu menggemaskan.

Apakah pipi itu masih melekat di wajahmu, saat sakit menggerogoti tubuhmu ? Semoga saja masih. Aku merindukan pipimu yang tertarik senyum itu… tapi, apakah masih ada senyum itu saat kamu bertemu aku nanti ? Semoga saja masih. Aku masih ingin melihat pipimu yang berisi itu dan ingin merasakan senyum yang hanya tertuju untuk ku, hanya untukku, tidak untuk laki-laki lain !

Apa kabar kamu, yang dulu sering ku pinta mengenakan jilbab ?

Apa kamu masih ingat, saat aku menjemputmu di depan rumah, selalu aku bertanya “mana kerudungnya ?” dan kamu hanya membalasnya dengan sebuah senyum. Sampai suatu ketika kamu pun berkata “nanti aku pake tapi karena Allah bukan karena kamu. Maaf ya” dan aku bangga karena jawabanmu.

Tampaknya sekarang selembar kain itu telah melekat di rambutmu. Kamu terlihat cantik bahkan sangat cantik. Sayangnya aku sudah tidak menjadi pemilikmu saat kamu mulai kenakan selembar kain yang sempat ku pinta itu. Kamu lebih mampu menjaga tutur bahasamu, perilakumu dan segala tingkah yang masih terlihat seperti anak kecil. Kamu terlihat dewasa, aku menyukainya.

Apa kabar kamu, yang dulu sering menutup wajah saat aku pandang ?

Aku ingat betul saat aku terlamun sembari melihat wajahmu yang lucu itu. “seberti bayi, lucu, menggemaskan” begitu ucapku, bergegas kamu menutup wajah dan memintaku untuk berhenti memandangimu sang pemilik pesona itu. Banyak temanmu yang senang jika kekasihnya memandang, tapi mengapa kamu tidak ? dan inilah yang aku suka darimu. Kamu berbeda, kamu lain, kamu unik, kamu lucu, AKU SUKA !

Apa sekarang aku masih boleh memandangmu ? walau hanya dari jauh atau selembar gambar dalam layar ponselku ? Apa masih boleh ? kamu mungkin akan marah saat tau aku sering melakukan hal ini, tapi beginilah aku saat merindukan wajahmu, hanya memandang tanpa harus kamu tutup. Kamu CANTIK.

Apa kabar kamu, yang dulu sering temani malamku melihat bintang dan bulan ?

Setiap malam saat aku ada di rumahmu, kita selalu melihat langit yang hitam menggelap sembari mencari-cari mana titik-titik putih(dibaca:bintang) yang menghiasi kegelapannya dan mencari satu cahaya yang lebih terang(dibaca:bulan). Hal bodoh inilah yang sering kita lakukan. Walau tampak terlihat bodoh tapi aku rasa kamu menikmati kebodohan yang kita lakukan ini.

Taburan titik titik putih dan satu cahaya terterang inilah saksi dari kebodohan yang sering kita lakuakan. Saksi obrolan malam antara dua anak adam yang di mabuk asmara. Obrolah yang harus berakhir karena waktu yang terlalu larut untuk seorang tamu laki laki yang menemui perempuannya.

Apa kabar kamu, yang dulu sering berkata “jangan kemana-mana ya” ?

Disela perbincangan malam kita kamu memintaku untuk berjanji, menurutku ini perjanjian konyol. Sebuah perjanjian  yang memint aku dan kamu untuk tetap disini(dibaca: hati) dan tidak berpindah ke tempat lain. “Jangan kemana-mana” 3 kata yang terangkai menjadi satu kalimat inilah wujud kesetianmu, kamu tetap bersamaku sampai kita memiliki ikatan.

Bahkan sampai ikatan ini berakhir aku rasa kamu masih menepati janji. Jangan tanya aku akan tepati perjanjian itu atau tidak, yang pasti aku akan tetap menjaga hatiku. Jangan tanya untuk apa dan untuk siapa, yang pasti aku akan tunjukan siapa yang pantas untukku nanti.

Apa kabar kamu, yang dulu pernah tersakiti olehku ?

Aku menggoresmu karena sikapku yang bodoh, aku mendukanmu. Lebih tepatnya bukan aku yang mendukanmu tapi hatiku yang berpaling. Aku akui ini adalah hal terTOLOL yang pernah aku lakukan, tapi aku tidak menyesalinya. Aku senang karena kamu dan teman wanitaku itu mencintaiku. Aku juga mencintai kalian berdua, tapi tidak akan pernah aku ungkapkan bahwa aku lebih dominan kearah siapa ? Aku rasa sesakit apapun aku menyakiti kalian pasti kalian akan memaafkanku. Benar bukan ?

Cukup sekali aku melakukan hal ini. Ini terlalu membuatku kecanduan. Sangat kecanduan. Cukup teman wanitaku yang menjadi wanita terakhir yang merasakannya dan cukup kamu yang menjadi korbannya. Cukup ! CUKUP ! CUKUP AKU laki-laki terakhir yang mempermain kan hati wanita sepolos kamu ! Jangan lagi ada orang lain ! Jangan !

Apakabar kamu, yang dulu sering menangisiku ?

Aku kira aku mampu membahagiakanmu, mampu membuatmu selalu tersenyum dan mampu melihat setiap hari pipimu yang gembul ternyata tetesan airmata itu mulai ada. Kamu mungkin memang tidak berkata, tapi aku tau. Suaramu mulai bergetar saat ku dengar melalui jaringan telfon tanpa kabel. Kamu mulai menangis.

Saat aku berkata aku mencintai 2 wanita sekaligus yaitu kamu dan teman wanita ku. Kamu terluka karenanya tapi aku bisa apa ? ini hatiku yang sebenarnya yang termiliki oleh dua wanita. Kamu mampu menahan amarahmu dan merubahnya menjadi air mata, hanya sebatas airmata. Itulah kamu.. hanya mampu mengeluarkan peluhmu tanpa kamu harus menegurku, yang nyatanya aku pantas kamu tegur atau bahkan kamu bunuh hati ini ! tapi kamu tak sejahat itu !

Apakabar kamu, yang kini masih menyayangiku ?

Tanpa aku harus tanyakan padamu, aku tau bahwa kamu masih memiliki perasaan itu (dibaca: sayang). Perasaan yang terus melekat saat kamu mulai mencintai seorang laki laki. Laki laki itu adalah laki laki beruntung yang mampu di cintai oleh wanita sepertimu. Wanita yang berbeda, begitu berbeda, menerima ke ikhlasan di atas penderitaan yang melukainya. Kamu luar biasa.

 Akulah laki-laki yang di maksud, akulah laki laki beruntung itu, akulah laki laki yang disebut-sebut tadi. Tapi kebodohan akulah yang terlalu membuatmu tersakiti, membuat hatimu menjadi tidak perasa, kamu terlalu terluka atau bahkan sampai berdarah, bernanah dan sekarang menjadi infeksi karena ku, dan kamu hanya mampu menangis.

Jangan tanya bagaimana perasaanku, aku sendiripun tidak tau. Apa yang aku rasakan ini. Aku masih menikmati senyumanmu, senyuman wanita itu (dibaca : teman wanita). Menikmati rasa perhatian yang aku berikan kepadamu dan wanita itu (dibaca : teman wanita). Menikmati rasa ini, rasa bodoh yang membuat aku menyakitimu.

“Maaf” aku hanya mampu berucap “maaf” karena aku belum mampu lakukan yang terbaik untukmu selama kita terikat sebuah ikatan. Aku belum mampu menjadi semangatmu saat kamu mulai menyerah. Aku belum mampu menjadi perawat saat kamu tergolek lemah karena terluka.

Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan kabar bahwa kamu sakit. Sebenarnya apa yang kamu rasakan ? Berbagilah penderitaanmu denganku. Mungkin aku tidak dapat membantumu secara fisik, tapi aku pasti bisa membantumu secara moral. Percayalah sayang aku pasti mampu melakukannya.

Lalu bagaimana kabar kamu sekarang ?
Masihkah kamu mencintai orang yang sama(aku) ?
Yang pasti aku akan tetap menjaga hatiku, tunggu aku !


1 Juli 2012
Saat membayangkan 
apa yang kamu lakukan 
sama sepertiku
Masih dengan orang  yang sama
Kamu sayang

0 komentar:

Posting Komentar

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template