Rabu, 27 Juni 2012

lagi-lagi (KAMU)


Aku menyusiri setiap sudut sekolah yang akan aku tinggalkan ini, setiap sudut ku lalui, aku melangkah sendiri tanpa teman untuk berbagi.

Aku tersenyum saat aku berada di depan pintu ruang kelasku yang tepat berada di depan lapangan basket. Aku ingat betul saat kamu melewati lapangan (jauh, tidak melewati persis depan kelasku) lalu kamu senyumi aku dari jauh hingga senyuman itu tidak lepas sampai pohon yang memisahkan pandangan aku dan kamu.

Kemudian ku susuri masjid, setiap pagi kamu selalu duduk di sana dan aku melewatimu untuk menuju ke kantin, padahal aku ke kantin hanya untuk melewatimu saja. Sampai aku di kantin, aku melirik ke arah kanan tepat samping kantin umi nasi uduk. Dulu mata dan senyum kita bertemu dari jauh, tanpa kata perasaan itu ada.

Aku membeli sebotol air mineral dan menikmati susu coklat dingin yang aku beli di kantin budelis, dalam cup kecil yang akan temaniku untuk kembali mengelilingi setiap sudut sekolah ini. Lalu aku kembali ke lapangan basket.

Aku melihatmu sedang bermain bola bersama teman temanmu yang lain, aku duduk di pinggir lapangan sembari melihatmu bermain. Tak lama kamu menghampiriku dan duduk persis di sebelahku. Kamu tau apa yang aku rasakan ? aku deg deg kan ! Kamu tersenyum sambil bertopang dagu melihatku, dan seperti biasa.. aku menutup wajahku dengan saputanganku. Tetap saja matamu melihatku walau aku merengek agar kamu tidak melihatku seperti itu, tetap saja matamu memandangiku !

Bergegas aku keluarkan air mineral yang aku beli tadi. Awalnya kamu menolak tapi setelah aku buka kan untukmu, kamu baru menerima dan meneguknya perlahan.

Tampaknya kamu sangat lelah. Aku sodorkan saputanganku untuk mengelap keringatmu yang mengucur membasahi dahi dan lehermu itu, tapi kamu menolak. Tetap saja aku mengelap keringat yang ada di dahimu dan lehermu itu. Kamu memandangiku sambil menyentuh tanganku yang sedang mengelap dahimu yang berkeringat. Aku menepisnya dan memberikan saputanganku untukmu agar kamu mengelapnya sendiri. Aku pun diam salah tingkah.

Kamu mengajakku menuju tempat yang jauh dari teman temanmu. Kamu membawaku tepat di depan ruang sekertariat OSIS. Kamu menyuruhku duduk dalam sebuah bangku panjang dan kamu duduk di sampingku.

Perlahan semua bualan itu kembali meluncur dari mulut manismu, aku hanya mengiyakan saja dan tak memperdulikan pasti apa yang kamu katakan. Mungkin kamu menyadari bahwa ucapanmu itu hanya aku anggap angin lalu. Sampai kamu menarik kedua lengan tanganku untuk menghadap ke arahmu dan menatap matamu sambil berkata “Liat mata aku ! Aku masih sayang kamu ! Liat mata aku dis, liat ! Aku sayang kamu! MASIH SAYANG KAMU” . Aku hanya diam sambil tersenyum dan mengangguk.

 Aku berjalan perlahan untuk kembali kelapangan dan pergi menjauhimu agar aku lebih tenang, tapi kamu mengikuti ku. Kembali kamu menarik tanganku dan mengajakku keluar dari sekolah, kamu memintaku untuk naik keatas motormu dan pergi ke suatu tempat yang pernah aku singgahi sebelumnya, tapi tempat apa ini ? Entahlah aku lupa…

Aku menaiki bukit kecil bersamamu dan aku hanya menarik nafas panjang sembari menikmati udara yang jauh dari polusi ini. Kembali kamu mulai membual dengan seribu rayuanmu yang memikat ku karena rasa sayangku kepadamu yang sulit untuk di hapuskan. Aku berusaha meng’iya’kan saja perkataanmu tapi kamu malah semakin mengatakan kalimat manis yang selalu aku harapkan itu.

Tiba-tiba tubuhku terasa dingin sangat dingin, kaki dan tanganku mulai serasa beku dan seketika aku langsung mengigil. “aku boleh peluk kamu ?” tanyaku. Sebelum kamu jawab aku langsung memelukmu erat, sangat erat. Aku merasa hangat dalam dekapanmu sangat hangat.
“badan kamu panas, panas banget. Kamu kenapa ? sakit ?” tanyamu cemas sembari menyentuh keningku yang panas.
“dingin, kedinginan, dingin..!!” ucapku yang masih mendekapmu erat dan menggigil. Kamu langsung melepas jaket berwarna hitam yang kamu pakai untuk kamu sematkan kepundakku sembari kamu peluk aku.

“sudah merasa hangat ?” tanyamu cemas dan aku berkata “Sudah lebih baik. Jauh lebih baik kalo kamu nerhenti membual. Aku terlalu mencintaimu sangat mencintaimu. Kalo kamu nggak punya perasaan kayak aku, aku nggak keberatan. Jangan paksakan itu ! Aku menikmati perasaan ini, perasaan yang tak di cintai. Aku mohon jangan bohongi perasaanmu dan hatiku lagi. AKU MOHON !” sambil mendekap tubuhmu erat dan beberapa tetesan air mengalir dari mataku dan turun membasahi pipiku. Hangat sangat hangat tetesan air ini.

“aku mencintaimu tulus tanpa bualan, perasaan ini sungguh ada dan aku belum rasakan ini sebelumnya, aku mohon jangan larang aku untuk mencintaimu. Aku memiliki perasaan yang sama denganmu TOLONG PERCAYALAH” Sambil membelai kepalaku dan memeluk tubuhku dengan erat.

“entah seberapa bertahan kamu akan tipu hatimu itu. Tolong jangan bohongi aku lagi. Aku mohon ! AKU MOHON !” Tiba tiba aku merasa kepalaku sangat berat, sangat berat. Aku masih dalam dekapanmu dan membasahi seragam sekolahmu karena airmataku.

“Aku masih pengen manggil kamu sayang ,masih pengen hubungin kamu dan tau kabar kamu, masih pengen denger suara kamu, masih pengen liat senym kamu dari deket, masih pengen………” sambil menghapus airmataku dalam dekapanmu.

“cukup sayang, cukup.. CUKUP bualan itu ! Biarkan aku menikmati dekapanmu yang hangat ini tanpa ada kepalsuan yang ada dalam mulutmu itu ! CUKUP SAYANG ! CUKUP !!”

“Aku akan tetap panggil kamu sayang” pelukanmu semakin erat dan sebuah kecupan mendarat di kepalaku. Aku merasa kehangatan ini, sangat hangat.

Seketika aku merasakan sesuatu yang hangat yang turun dari hidungku. Aku tau itu adalah cairan kental berwarna merah yang sering keluar saat aku tak kuat menahan rasa panas dari demam yang sering aku rasakan ini, tapi aku biarkan. Aku menikmati dekapan hangat ini dekapan hangat yang mungkin tidak akan aku rasakan lagi, dekapan hangat yang membuatku merasanyaman, dekapan hangat yang mulai aku rasakan dingin, dekapan hangat yang perlahan mulai terlepas dari ku dan ‘gubrakkkkk…’ tak lama semua berubah gelap.  

“diska.. dis.. diskaaaa… diss.. bangun diss.. dek.. bangun dek” suara itu seperti suaramu tapi lebih menyerupai suara kepala keluarga dalam rumahku.

Seketika sebuah cahaya memaksaku membuka mata dan ternyata aku berada dalam ruangan yang tak asing lagi. Cat dinding warna biru yang di penuhi ratusan ornamen bintang, Yaa.. tidak salah lagi ! Ini adalah kamarku. Lagi lagi ini hanya mimpi ! Syukurlah.. Tapi apa maksudnya TUHAN ?

25 JUNI 2012
Saat pagi membangunkanku
dan menyadarkan semua hanya mimpi
Walau wujudmu seperti nyata
Aku masih mengagumi orang yang sama

Yaitu, KAMU

0 komentar:

Posting Komentar

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template