Rabu, 27 Juni 2012

KAMU,AKU atau KITA yang (masih) SAYANG ?

Lagi lagi pesan singkat itu masuk kedalam ponselku, pesan singkat yang selalu memanggilku dengan sebutan ”sayang” dengan pengirimnya itu adalah namamu. Entah apa tujuan mu (masih) memanggilku sayang, padahal sudah sebulan yang lalu kamu mengakhiri semua ikatan yang kita jalani kemarin. Aku marah dengan panggilan yang sering kamu sebut akhir-akhir ini. Kamu tau betul bahwa aku ini sulit melepaskan perasaan sayangku jika aku sudah mulai jatuh hati kepada laki-laki.

Kamu adalah salah satu laki-laki beruntung yang sudah mendapatkan hatiku secara cuma-cuma. Aku hanya butuh waktu beberapa jam untuk memiliki perasaan itu(dibaca:sayang), tapi untuk menghapus dan menghilangkan rasa itu aku butuh waktu berbulan bulan atau bahkan beberapa tahun, hanya untuk menetralkannya dan membuka kembali untuk orang lain. Tapi kamu malah melepasnya secara cuma-cuma dengan sejuta alasanmu yang menurutku itu hanyalah ALIBI belaka !

Terus saja kamu menggodaku dengan sebutan itu, seberapa bertahan aku mampu membuatmu berhenti untuk mengatakan satu kata yang membuatku terbang melayang. Satu kata yang membuat aku terhempas ke udara. Satu kata yang membuat aku selalu semangat. Satu kata yang mampu menghancurkan kenyataan bahwa sebenarnya kata itu adalah PALSU.

Aku pasti akan merasa kehilangan setelah panggilan itu tidak meluncur lagi melalui mulutmu, pesan singkat atau bahkan jaringan telfon ! Dan benar saja. Kamu tidak lagi memanggilku itu (dibaca: Sayang). Kamu tidak lagi menyebutku itu (dibaca: Sayang). Kamu tidaklagi mengatakannya.. sudah tidak ! dan aku merasa kehilangan, sangat kehilangan.

Sampai suatu ketika aku jatuh sakit hingga cairan merah harus mengalir hangat melewati hidungku.

Kamu memang tidak menyebut dan memanggil aku “sayang” lagi, tapi kamu berikan aku perhatian yang berarti. Sebenarnya apa maksud perhatiamu itu ? yang pasti, aku hanya mampu berucap TERIMAKASIH !

Kamu menanyakan kabarku dan keadaan ku yang kian hari kian melemah ini. Entah darimana kamu mendengar keadaan ku , yang jelas aku menikmati perhatianmu. Sangat menikmatinya, tapi apa maksudnya ? Entahlah…. aku tidak ingin membahas apa maksudnya. Yang jelas aku sedang menikmatinya. Menikmati perhatianmu yang sudah lama tidak dapat aku rasakan lagi.

Perhatianmu terus mengalir walau hanya melalui pesan singkat yang cenderung tak terlihat wujud dan bagaimana ekspresimu sebenarnya, tapi aku tidak perduli. Karena aku rindu perhatian ini. Perhatian yang selalu menyurukmu “makan yang banyak ya” ,“jaga kondisi” dan sejenisnya.

Rasanya aku ingin terus sakit jika ini mampu menarik perhatianmu untuk terus menghubungiku dan menanyai keadaanku. Tapi aku pun ingin sembuh, ingin sehat dan ingin mampu berdiri, berjalan dan berlari kearahmu atau bahkan bersamamu.

Jika aku sembuh nanti apakah masih ada perhatian itu ? Masih adakah pesan singkat itu ? masih adakah suara itu ? Semoga saja. Aku masih berharap.


27 JUNI 2012
Saat membaca isi pesanmu kemarin
dan perhatianmu hari lalu
Yang aku harapkan dan aku rindukan
Masih dengan wujud yang sama
Aku masih BERHARAP

1 komentar:

  1. setiap orang memang sangat sangat BUTUH sesuatu yang bernama PERHATIAN. Tapi, kita juga harus pintar dalam memilah-milah bentuk PERHATIAN itu. Karena bisa jadi hanya dengan sekecil biji sawi PERHATIAN , kita bisa terlena akan itu. Yang mana itu pastinya akan merugikan untuk diri kita. Karena pasti menguras emosi, pikiran, dan yang penting waktu. Yang tak pernah bisa kembali :)

    BalasHapus

 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template