Minggu, 04 September 2016

Pertama (6)

Dear Vino

Lagi lagi aku menulis surat cinta untukmu.
Semoga kamu tidak bosan.

Untuk waktu kamis september. Terimakasih sudah ingat aku.
Terimakasih sudah mau mengajakku bercanda. Terimakasih.
Walau hanya malalui ketikan tak bersuara di aplikasi chat.
Sekali lagi terimakasih.

Perkara kerinduan yang berulangkali ku katakan tapi tidak dapat dijelaskan, aku harap kamu abaikan dengan cepat.
Ah.. sudah pasti harapanku akan menjadi kenyataan.
Sebab, kamu juara soal mengabaikan, khususnya mengabaikan aku.

Aku berpikir bahwa apa yang kamu tulis seputar kerinduan adalan tentangku.
Iya iya aku paham. Aku terlalu percaya diri kan ?
Aku baik baik saja walau yang kamu tulis itu bukan aku.

Terimakasih selalu update sosial mediamu.
Aku jadi lebih tahu bahwa kabarmu baik baik saja. Kamu masih sehat.
Punggungmu masih seistimewa saat terakhir pertemuan
Alismu masih tampak tegas
Ah ingin rasanya memiliki keturunan sepertimu.
Ah.. maafkan aku Vino. Mimpiku sering berada diluar batas.

Terimakasih telah mengingatku. Aku senang.
Sangat senang.



Tertanda
Kerinduan yang (menurutmu) membosankan
MARSHA (and the bear)


Rabu, 24 Agustus 2016

Pertama (5)

Dear Vino

Hi Vino
Aku menulis ini karena saat ini aku terkejut. Kamu masih mengingat namaku dan menyebutnya begitu saja dalam grup whatsapp 'Marsha sebentar lagi juga .....' begitu katamu.

Disaat anggota grup sudah ingin melupakan dan menyebut 'siapa itu marsha ?' Tapi kamu malah menyebutnya dengan jelas. Ya walau pada akhirnya anggota grup tidak merespon lagi seputar aku. Hanya kamu yang sebut namaku ! Terimakasih Vino sudah ingat.

Sudah genap 1 tahun, sejak pertama kali pertemuan kita. Terimakasih Vino untuk tetap mengingat nama ku.

Aku tahu punggungmu masih se-istimewa dulu, dan aku masih memliki keinginan untuk memeluk punggungmu. Menghapus lelahmu.

Iya iya maafkan aku Vino. Aku bukan kriteria wanitamu. Aku sadar. Hanya saja, sangat menyenangkan ketika bercerita tentang mu terutama punggungmu. Tak masalah jika kamu selalu membelakangiku, karena itulah yang sering kamu lakukan kepadaku. Aku memang bukan bagian penting sehingga kamu harus memperhatikanku. Sebab itulah cukup punggungmu saja yang aku cintai.

Kapan kamu akan menceritakan lelahmu kepadaku ? Kapan kamu akan menyampaikan rasa bahagiamu kepadaku ? Aku akan tunggu Vino. Ya aku tahu Vino, hal itu adalah hal yang tidak mungkin tapi percayalah aku bahagia walau kelak disisimu itu bukan aku.

Semoga kamu sehat selalu. Aku masih tetap 'suka' kamu, seperti yang sudah aku katakan di awal bulan September  lalu. Saat lelah tubuhmu menjadi panitia acara komunitas mu. Apa kamu masih ingat itu ? :)

Ah kamu pasti lupa hal tidak penting ini !
Vino...
Aku merindukan punggung (ka)mu !


Dari rindu yang biasa kau sebut
Marsha (and the bear)

Rabu, 10 Agustus 2016

Pertama (4)

Dear Vino

Hai Vino, bagaimana kabarmu ?
ini kali ke-4 aku memperbincangkan mu Sudah lewat beberapa bulan saat terakhir kali aku menulis tentangmu.
Apakah kamu merindukanku ?
Wahh... itik buruk rupa ini sudah mulai lancang membahas rindu dengan mu ya hahaha
Maaf, aku lancang. Sebab belum ada pertemuan setelah 7 bulan lamanya.

Aku masih belum memiliki alasan untuk menciptakan pertemuan. Bukan karena tidak ada kesempatan tapi....
Kamu yang tidak menginginkan pertemuan kita. Iya kita !

Canggung rasanya saat terakhir kali bertemu kamu, sebab perasaanku masih tergantung di pikiranmu. Mungkin sedikit mengganggumu. Maaf telah menciptakan ketidak nyaman selama ini.

Terimakasih sudah mengirimi aku pesan singkat lebaran yang sudah berlalu beberapa hari. Maaf aku tidak membalas.
Sebab jika aku membalas, aku akan selalu menunggu balasanmu dan hal itu sedikit menyiksaku. Padahal sulit bagiku memulai perbincangan, sedangkan mudah bagimu untuk mengakhirinya.

Punggungmu masih se-istimewa dulu. Iyaa.. aku melihat postinganmu di internet.
Aku pikir kamu membaca postingan ku sebelumnya yang membicarakan seputar punggung mu. Apa aku GR ? Maaf jika aku salah.
Tapi... rasanya masih sama, aku masih ingin memeluk punggungmu.

Kali ini tidak banyak yang aku ceritakan.
aku rindu. itu saja !
yang jelas kerinduanku tidak sesederhana itu.



Tertanda,
kerinduan yang boleh kau penggil ...
Marsha and the bear (?)

Senin, 25 April 2016

Pertama (3)

Sebuah dentuman.
Berdegub.
Memukul kencang.
Irama cepat.
Tidak teratur.

Begitulah jantungku, saat mataku menatap punggungmu. Sebatas punggung. Badanmu yang kurus, namun bidang rasanya ingin ku peluk saja dari belakang.

Aku tidak sedang membicarakan pertemuan. Hanya  postingan singkat sederhana punggungmu, menatap indahnya maha karya Tuhan yang kau agung-agungkan. Kamu sangat menyukai travelling. 

Kita berbeda. Aku hanyalah gadis dua puluh tahun yang tidak diizinkan pergi keluar rumah tanpa tujuan. Mamah berkata bahwa travelling akan membuang-buang waktu saja. Tapi karenamu rasanya aku menikmati indahnya alam ketika kamu bercerita dan ketika kamu memamerkan semua foto-fotomu. Kamu begitu antusias saat bercerita padahal dalam cerita itu kamu sedang sakit. Bahkan kamu juga berkata bahwa Ibumu begitu mengkhawatirkanmu.

Iya. Itu semua hanya sebuah postingan di Blog pribadimu. tapi rasanya seperti dekat. Seperti benar-benar melihatmu bercerita di hadapanku. Seperti tampak nyata. Membuat aku tertawa, khawatir, dan bahagia dalam satu waktu. Membuat aku ingin bersyukur bahwa jika aku tidak dapat dipertemukan dengan maha karya Tuhan seindah itu, setidaknya aku sudah diperkenalkan melaluinya, yang menurutku maha karya Terindah.

Seperti terngiang-ngiang dikepalaku bahwa suatu saat kau akan berkata "Ini menyenangkan, pergilah bersamaku. Aku akan minta izin kepada mamahmu"

Dan itu semua hanyalah fiktif belaka.

Kamis, 26 November 2015

Pertama (2)

Ini bukan perkara aku mencintaimu, tapi karena kamu alasan ku.
Terkesan berlebihan ? tetapi menyenangkan ketika tahu orangnya adalah kamu.

Apakabar Vino ?
Kamu masih beralis tebal ? bermata lentik ? dan bertubuh kurus ?
Ah kamu pasti tidak makan tepat waktu, karena tumpukan pekerjaanmu. Ayolah jangan jadikan kafein sebagai asupan utama mu di pagi dan sore hari..

Apakah kamu menanyakan kabarku ?
kabarkuu... ya begitulah. Aku masih terjebak dalam status mahasiswa tingkat akhir. Kamu pasti tahu betapa aku sangat sangat kelelahan, menghadapi tumpukan tugas PPL, Seminar yang sampai 2x, dan menyicil perlahan lahan Tugas Akhir.

Ah padahal kamu tidak menanyakan, dan tidak mau tahu kabarku !

Tetapi...

Terimakasih karena kamu, sudah mau memperhatikan aku di dalam benda mati, interaktif yang aku sebut ; PATH !

Iya iya aku terlalu percaya diri !
kamu tidak sedang memperhatikanku. Aku hanya kebetulan lewat beranda Time Line mu. Dan kamu menyapaku dengan meninggalkan tanda LOVE dalam postinganku. Hanya sebatas itu saja. Dan apakah kamu tahu...
Apa yang aku lakukan ?

ah sudahlah, jika ku beritahu kamu akan mengatakan bahwa aku ini berlebihan kan ?

Entah... Siapapun yang mencetuskan Path, aku sangat berterimakasih. Dengan Path, aku mampu memantau keberadaanmu, lagu yang kau putar, dan semua dokumentasi aktivitasmu. Walau tidak pernah sekalipun kamu menulis namaku 'With-Marsha Timothy' dalam setiap postinganmu.

Tak apa.. yang penting kamu bahagia.
iya iya, lagi lagi aku berlebihan. Dan kamu semakin tidak menyukainya :(

Ah sudahlah. Memperbincangkanmu membuat aku semakin mengharapkanmu.


tertanda
yang ingin menjadi istri dari Vino

Marsha and the Bear (?)







Selasa, 24 November 2015

Pertama

Untuk pemilik alis mata yang tegas. Yang selalu ingin dipanggil Vino; Vino G Bastian.

Apa saat ini kamu sedang duduk di meja kantormu,
menyentuh mouse mu dan mengarahkannya pada jelndela halaman internet,
dan menekan beberapa tombol dalam keyboard komputer
dan berusaha mencari alamat blogku ?

Kamu pasti sudah merasa bahwa suatu saat akan memperbincangkanmu, di  blogku. Kali ini kamu benar !

Kamu pasti sudah tahu, tulisan ini akan mengarah kepadamu. Karena kamu sudah tahu alasannya; Aku menyukaimu. Iya aku mengatakan itu setelah 3 minggu pertemuan kita. Terlalu cepat ? Itu karena aku memang mudah sekali jatuh cinta. Terkesan murahan ? Terserahlah apa katamu, tapi hari itu adalah pertama kalinya aku mengungkapkan cinta. Iya ! Aku melakukan hal itu hanya kepada mu...

Selama 20 tahun hidupku, seketika aku lupa dimana harga diri ku. Untuk pertama kalinya aku tidak bisa menahannya, terlebih saat pertama kali menatapmu... Hilang sudah akal sehatku. Kamu bahkan tahu bahwa aku dapat merekam semua percakapan kita, yang bahkan kamu sendiri tidaklah ingat.

Sekarang aku  tahu. Mengapa Tuhan selalu meletakan penyesalan di bagian akhir. Agar Hambanya berpikir sebelum bertindak. Bolehkah aku menyalahkanmu ? Bagaimana aku dapat berpikir ? Karena menyukaimu saja, sudah hilang akal sehatku.

Aku sangat menyukaimu jika kau mengenakan kacamatamu. Walau kamu tidak pernah melakukannya di depanku. Padahal, aku sangat membenci laki-laki berkacamata. Namun jika itu kamu, rasanya aku tidak punya alasan untuk membencimu.

Kamu apa kabar ? Aku rasa kamu masih kurus. Tapi aku percaya lengan tanganmu masih sanggup membantu sesama. Rasanya aku ingin menyentuhnya, tapi ah sudahlah kamu juga tidak mau membalas sentuhan tanganku. Bahkan sebatas membalas lambaian tanganku.

Kamu apa kabar ? Bagaimana persaanmu, tentang aku ?
Sudahlah, lupakan saja pertanyaan bodoh itu. jawabanmu akan tetap sama
'Kakak Bingung'
Terimakasih sudah menjadi bingung karena saya.
Mohon maaf telah membuatmu bingung karena saya.

Terimakasih sudah mau menyempatkan waktu membaca tulisanku kali ini. Aku malu jika harus mengatakan bahwa aku masih menyukaimu, sedangkan lenganku sudah di genggam oleh orang lain. Tapi percayalah, jika aku boleh meminta kepada Tuhan, aku ingin di pertemukan denganmu terlebih dahulu. Andai itu dapat terjadi. Andai saja...


Dari seseorang yang ingin menjadi istri dari Vino G Bastian

Marsha Timothy and The Bear (?)

Selasa, 25 Agustus 2015

Antara Cinta dan Rahasia

Kita mengawali sebuah percakapan yang salah. Kenyataanya, aku tidak menyesal telah memulai percakapan yang salah denganmu. Aku justru menikmati setiap kata yang kita ucapkan. Membuat pipimu selalu mengembang setiap kita berbicara, terutama setiap pertemuan kita yang jarang sekali terjadi. Memandangmu dalam pertemuan yang jarang adalah sebuah rindu yang menyesakan dada, seperti... aku tidak benar-benar memilikimu secara utuh.

Sebenarnya..
Kita memiliki sebuah cinta yang seharusnya tidak kita mulai. Ini bukan salahmu. Ini semua adalah salahku ! Aku terlalu menikmati bibir manismu hingga aku tidak mampu melepasnya. Kesalahan kita adalah... kita seorang penghinat. Menyimpan rapat-rapat rahasia besar, kemudian kita bersikap tidak terjadi apa-apa. Munafik ! Iya itulah kita !

Airmataku bercampur dengan permohonanku. Setiap malam kita tertidur dalam keadaan tidak nyenyak, dibayang-bayangi rasa bersalah tentang sebuah rahasia yang telah kita simpan. Manusia bodoh mana yang akan tetap bahagia memiliki cinta seperti kita ? Dan aku tidak ingin melepaskan cintamu.

Ada saatnya.. Cepat atau lambat, bahwa aku tidak bisa menjadi bagian dari dirimu lagi. Kamu boleh menghilang dari kehidupanku, tapi ketahuilah bahwa kamu adalah cahaya hidupku. Jika suatu saat kamu akan benar-benar pergi, maka detik itu juga hancur sudah duniaku.

Aku tersenyum memikirkanmu, tapi aku terpukul ketika mengingatmu. Kita saling mencintai. Cinta kita adalah cinta terkejam yang pernah aku temui. Tapi apakah kita bisa menyalahkan cinta ? TIDAK ! Cinta tidak seharusnya menjadi alasan untuk kesalahan yang telah kita buat.

Aku ingin bernafas bersama dengan cintamu, mengarungi semuanya seperti kamu menjalani semua bersamanya. Aku ingin seperti dia, yang kamu perlakukan secara spesial. Yang kamu rebut cintanya secara resmi. Yang kamu sanjung di depanku setiap kita bertiga bertemu. Yang kamu genggam erat tangannya, walau disitu ada aku. Iya.. Dia ! Dia yang menjadi batu kerikil kita. Dia adalah kekasihmu, sahabatku. Dia yang sering kita perbincangkan dalam setiap pertengkaran kita. Dia yang menjadi bagian tergelap dan tersuram dari masa depan kita.

Aku ingin menyerah. Dan hal itu adalah hal tersulit yang bisa aku lakukan. Jangan berpaling dariku, aku akan selalu mengingat mata coklatmu. Tetaplah seperti ini. Aku terlanjur menikmatinya dalam kesakitanku.

Aku akan bersikap seperti biasa. Seperti yang sering kamu katakan "bersikaplah seolah kita tidak pernah melakukan apa-apa"



Terinspirasi :
Yura Yunita ft. Glen Fredly - Cinta dan Rahasia

Sabtu, 18 April 2015

Perkara KEBETULAN !!

Pada akhirnya aku tahu namanya. Tasya. Setelah sekian lama hingga 4 semester ini hampir berakhir. Secara tidak sengaja, aku tahu namanya begitu saja. Kelas kami selalu berhadapan tanpa sengaja, atau mungkin pihak akademik tahu bagaimana caranya menjodohkan dua anak manusia ? Entahlah ! aku tidak mau ambil pusing.

Namanya Tasya Salsabila. Namanya cantik, seperti wajahnya. Tingginya hanya sepundakku, secara tidak sengaja dia berdiri menghampiriku. Bukan, bukan menghampiriku lebih tepatnya dia sedang mencari udara segar, dia lebih suka berdiri sebentar dibalkon saat ditengah-tengah jam kuliah, dan kebetulan aku sedang berdiri disana saat itu. Dia tersenyum saat menyadari keberadaanku di balkon, dan sampai detik ini aku masih ingat senyumnya. Manis.

Tubuhnya berisi, ideal untuk seukuran wanita berusia 19 tahun. Dia lahir pada tanggal 5 Meil 1995. Aku tahu karena tahun lalu teman-temannya membawakannya kue ulangtahun kesukaannya. Brownies. Brownies yang diatasnya ada angka 19. Sejak saat itu aku selalu ingat hari ulangtahunnya.

Jika aku ceritakan lebih dalam tentangnya, kamu tidak akan percaya bahwa wanita yang sering aku perhatikan ini adalah wanita yang aneh. Wanita ini bukan tipe wanita yang suka dandan, bukan wanita yang lebih sering mengenakan rok, bukan wanita yang suka menggunakan hak tinggi. Wanita ini berbeda. Berkulit coklat gelap, memiliki bibir mungil, pipi gembul, mata besar dan hidung mancung seperti orang arab, tapi mana ada orang arab hitam ? Dia Lebih suka mengenakan celana jeans dan kemeja panjang. Menggunakan kerudung sederhana dengan sepatu runing yang tidak pernah dia ikat. Dan secara kebetulan tali itu tidak pernah mengganggu langkahnya. Secara kebetulan aku tahu bahwa dia tidak pernah mencuci sepatunya sejak dia membelinya, jorok ! tapi itu seni katanya.

Entah kebetulan apalagi yang jelas, ternyata kami satu fakultas, satu jurusan, dan satu semester ! Dia kelas B dan aku kelas D. Kami sudah menginjak semester 6. Beberapakali aku dapat melihatnya di kelasku karena dia sering ikut kelas terbang. Dan secara kebetulan, setiap matakuliah kelas terbang dia selalu memilih duduk di belakang dan menarik bangku persis disampingku. Aku berada di samping kirinya saat ini. Jantung ini rasanya mau copot, apakah kamu tahu itu Tasya ?

Dia selalu tersenyum, konsentrasiku beralih padanya. Bukan beralih tentang matakuliah statistik yang kata orang sulitnya minta ampun. Padahal menurutku biasa saja. Aku tahu sebenarnya dia kesusahan dalam kelas menghitung, tapi senyumnya itu tidak pernah luntur. Dia memang bukan ahli dalam bidang hitung menghitung. Kebetulan saat kembalian air minum dia bahkan lupa harus ada kembalian, dan aku lah yang disuruh om warung dekat kampus mengantarkan kembalian itu. Tahukah kamu ? Kalimat pertama yang Tasya ucapkan padaku adalah Terimakasih,Tomi sambil tersenyum. Oh.. Aku dibuat mati karenanya. Jantungku berhenti. DIA TAHU NAMAKU !!!

Selesai kelas statistik dia menatapku, aku shock karena kebetulan aku sedang memperhatikannya dari sandaran bangkuku. Aku  bahkan tidak bisa memalingkan mataku yang langsung menatap matanya, aku sesak nafas saat itu juga. Dia malah menyodorkan catatan buku statistiknya, ‘Tomi, kamu gak cape ngelamun terus ? besok balikin yaa daaah..’ Begitu katanya yang secara cepat menghilang dibalik pintu kelas. Tasya, KEMBALIKAN NAFASKU !!!

Sampai dirumah aku membuka catatannya, aku tahu dia begitu bermasalah dengan angka tapi dia sengaja membuat catatan statistik dibuat semenarik mungkin. Tetapi tetap saja nilai statistiknya selalu C+. Di setiap pertemuan di ujung bawah bukunya selalu tertulis kesan awal masuk sampai selesai pertemuan. Aku membacanya satu persatu, dia pernah merasa lapar diawal pertamuan bahkan dia pernah menulis aku mau nangis aja. Lucu. Kamu masih ingat, saat nafasku hilang kemarin, dia menuliskan kesan awal masuk ; Semoga berhasil Tasya, katanya tahun depan mau nikah !  hehe. NIKAH ?? NIKAH DENGAN SIAPA ?? Aku mengerut dahi, diujung bukunya setelah tulisan rumus frekuensi tertulis; Tomi, lagi-lagi gak belajar dia malah melamun. TULISAN ITU UNTUK AKU !! resmi seketika itu juga aku langsung MATI.


Oh iya, tadi aku mengatakan bahwa begitu saja aku tahu namanya ya ? itu karena ternyata secara kebetulan saat duduk di kelas statistik sebelah kanan lengan Tasya adalah Roby. Sahabatku sendiri, yang ternyata adalah kekasih Tasya selama 6 semester kami kuliah. Kebetulan !

Kamis, 09 April 2015

Hai Cemong !



Aku masih belum punya alasan mengapa aku sengaja menulis tulisan ini untuknya. Aku masih berupaya keras mengapa aku harus menengok kearah pajangan kucing kecil dengan warna yang aneh. Aku tidak tahu...

Ditengah-tengah padatnya tugas-tugas kuliah yang menggunung di semester 6 ini aku tertegun. Menatap legam-legam pajangan kucing dari keramik yang aku pikir ini adalah salah satu pajangan yang tidak layak jual. Aku memanggil pajangan kucing itu adalah ‘cemong’. Kamu boleh lihat warna merah jambu di hidunya, celemotan.

Aku teringat akan sosok yang baru tahun lalu kami dipertemukan dalam suatu acara yang disebut malam keakraban yang sengaja di buat untuk menjalin keakraban dan kekompakan jurusan kami. Waktu itu aku dan dia satu kepanitiaan. Oh iya, bagaimana kabarnya ? lupakan ! dialah orang yang memberikan pajangan keramik itu saat acara tukar kado setahun yang lalu. Katanya 'Buat kamu aja beb, biar inget aku terus hehe'.

Kabarnya ? Bagaimana kabarnya ? Dia baik-baik saja. Aku sering bertemu, kelasnya selalu tidak jauh dari kelasku. Dia kelas A dan aku kelas B. Aku tidak pernah tahu namanya, dia adalah anak pecinta alam. Jika dilihat secara fisik dia tidak tinggi, tidak tampan, kulit sawo matang, memiliki jerawat di pipi kirinya, rambutnya panjang sebahu. Penampilan ? Ya kamu tahu lah gaya anak pecinta alam sejati. Terlihat seperti urakan, kumuh, atau mungkin saat berangkat kuliah belum sempat mandi ? entahlah !

Dia tidak pernah mengikat rambut panjangnya. Dia lebih sering menyeka poninya ke belakang telinga. Saat berbicara dalam kepanitian, wibawa begitu kental. Dia berbeda dari cara berpakaiannya, dia lebih spesial dari orang-orang berdasi diluarsana. Dia dewasa !

Aku jatuh cinta ! 
Sial ! 
semudah itu aku jatuh cinta ? 
Murahan ! 
padahal aku baru mengenalnya beberapa jam yang lalu.

Karena kami satu kepanitian tentu saja kami dekat, amat sangat dekat. Tapi apa salah jika sampai detik ini aku tidak tahu namanya ? sudah setahun silam aku masih belum mengetahui namanya.

Dia mengetahui namaku tetapi dia lebih suka memanggilku dengan sebutan “bebeb” lucu ya. Padahal kami baru kenal saat itu. Aku menikmati panggilan itu. Bukan karena aku jatuh cinta. Itu karena panggilan manis itu hanya aku dapatkan darinya dan panggilan itu hanya ditujukan untukku. Dia memang bukan orang yang agamis, sholat ? jangan tanya ! aku bahkan tidak tahu dia muslim atau bukan. Dia lebih sabar dariku, dia menenangkan aku saat aku stress dengan kelompok yang aku mentori, dia mau mendengarkan keluhanku atas kepanitiaan yang membuatku naik darah, dia itu mampu.... ah, segalanya dia mampu ! dia mampu membuangku saat acara kepanitiaan itu selesai.

Ya.. aku dibuang. Aku dilupakan. Selesai acara kampus, semuanya berubah. Tidak ada lagi panggilan ‘bebeb’ lagi. Semuanya selesai. Kami berubah menjadi asing, tidak kenal, tidak pernah saling menyapa, bahkan lambaian tanganku tidak pernah direspon balik. Apa salahku ? 


Saat ini rambutnya sudah tidak sepanjang dulu, dia lebih tampan dengan rambut cepak walaupun gayanya masih sama, belum serapih orang-orang berdasi. Kita hidup biasa saja, Kami saling tertawa tapi kami tertawa masing-masing dengan orang lain. Kami hanya berpapasan tanpa saling mengenal. Seolah-olah tidak pernah ada panggilan "Bebeb" seperti dulu.

Ah sudahlah, aku hanya membuang-buang waktu menulis tulisan ini untuknya. Tentang perasaan yang disembunyikan oleh kerinduan. Tak bisa dijelaskan. 

Baiklah aku akhiri saja semua ini.

"Hai bebeb, AKU sudah RINDU setengah mati !" 
 
Rediska Amaliawati Blogger Template by Ipietoon Blogger Template